Showing posts with label Ibu amp; Anak. Show all posts
Showing posts with label Ibu amp; Anak. Show all posts

Friday, October 1, 2010

Susu Formula Jelas tak Sama dengan ASI


JAKARTA--Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi. Karenanya pemerintah giat mensosialisasikan pemberian ASI esklusif selama enam bulan.

Tapi, saat ini ASI terdesak dengan susu formula. Padahal ASI tidak sama dengan susu formula.''Sampai saat ini, tidak ada satu pun susu formula terbukti secara ilmiah yang dapat menyamai ASI,'' tutur Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Badriul Hegar, kepada Republika, Sabtu malam (4/9).

Tidak samanya ASI dengan susu formula mencakup komposisi kandungan maupun efek fisiologis yang dihasilkan. Hal ini, jelas Badriul, karena keunikan komposisi nutrisi ASI yang memang sulit untuk disamakan oleh kemajuan teknologi yang ada.

Sehingga susu formula bukan saingan atau tandingan ASI. Oleh karena itu masyarakat dan pihak terkait seharusnya memberikan kesempatan lebih besar kepada ibu untuk menyusui bayinya. Karena banyak bukti ilmiah menjelaskan efek positif ASI bagi bayi.

Susu formula memiliki keterbatasan sehingga efikasi (efek maksimal yang dapat dihasilkan) oleh bayi juga terbatas. Tidak seperti efikasi yang diperlihat oleh ASI. ''Walaupun begitu ada sekelompok kecil bayi yang karena keadaannya apakah dari bayi atau dari ibu menyebabkan ibu tidak dapat menyusui bayinya,'' jelas Hegar. Pada keadaan inilah sumber nutrisi alternatif selain ASI bisa dipertimbangkan.

Friday, July 9, 2010

Bahasa Tubuh Bayi dan Artinya

Bayi yang berusia beberapa bulan memang belum bisa berbicara, sehingga salah satu komunikasinya hanya melalui tangisan dan bahasa tubuh. Tapi orangtua bisa mempelajari bahasa tubuh si bayi untuk mengetahui keinginannya. Bayi memang memiliki cara berkomunikasi yang unik dengan orangtua atau orang-orang disekitarnya. Dikutip dari Parenting, Jumat (9/7/2010) orangtua bisa mempelajari bahasa tubuh dari si mungil, yaitu: Menendang kakinya Kondisi ini berarti bayi terkesima atau tertarik dengan sesuatu, misalnya ketika ia melihat sesuatu yang menakjubkan atau mecipratkan air di bak mandinya. Bahasa tubuh ini juga bisa berarti bayi mengungkapkan kata 'Wow'. Atau bisa juga bayi ingin sesuatu yang lebih, misalnya mengajaknya bermain atau ia ingin bergerak tapi tempatnya sempit. Cara meresponsnya adalah dengan berbagi semangat dengannya atau memangkunya sambil diajak bermain. Karena menendangkan kakinya juga membantu mengembangkan otot yang dibutuhkan saat merangkak. Memalingkan mukanya Kondisi ini bisa berarti bayi membutuhkan sedikit waktu untuk mengetahui apa yang terjadi, terutama sesuatu yang dilihatnya. Atau bisa juga bayi membutuhkan waktu untuk ruang pribadinya. Cara meresponsnya adalah biarkan ia memeriksa sekelilingnya, bahkan jika untuk melihat bayangan dicerminnya atau bisa juga dengan memberinya waktu untuk bersantai. Tapi jika bayi terlalu lama berpaling, cobalah untuk menarik perhatiannya lagi. Mengucek atau menutup matanya Kondisi ini bisa berarti ia berusaha untuk bermain 'ciluk ba' atau permainan lain untuk memikat orang lain. Hal lainnya adalah bayi bersiap untuk pergi tidur ketika ia sudah merasa lelah. Cara meresponsnya adalah menanggapi minatnya dengan cara mengajaknya bermain, misalnya dengan cara melemparkan selimut tipis sehingga ia akan berusaha untuk menarik selimut tersebut. Tapi jika ia mengantuk, gendonglah ia sambil dinyanyikan atau dibacakan cerita pendek sambil diayun-ayunkan. Memilin-milin rambutnya Kondisi ini bisa berarti ia sedang berusaha membuat dirinya merasa lebih baik. Selain itu melakukan gerakan berulang juga bisa berarti untuk menutupi rasa gugupnya, seperti karena ada pengasuh baru atau dilingkungan baru yang terlalu bising untuknya. Cara meresponsnya adalah membiarkan ia melakukan hal tersebut, karena itu bukan suatu hal yang harus dicegah. Bisa juga mengajaknya berbicara dengan nada suara yang menenangkan atau mengajaknya bermain untuk melupakan kegugupannya. Bayi melengkungkan punggungnya Kondisi ini bisa berarti ia sedang marah, rewel, kesal dengan suatu hal atau mengalami sakit yang belum bisa diungkapkannya. Cara meresponsnya adalah cobalah untuk menenangkannya, biasanya membutuhkan waktu lebih lama karena bayi yang melengkungkan punggungnya merupakan akumulasi dari rasa tidak nyamannya. Jika disertai dengan gejala lain seperti muntah atau demam, maka segera periksakan ke dokter agar tidak terjadi kesalahan diagnosis dan bayi kembali merasa nyaman. Meregangkan lengan atau tangannya Kondisi ini berarti bayi dalam suasana hati yang baik, santai dan bersiap untuk melihat sekelilingnya, tapi sebaiknya tetap perhatikan ekspresi wajahnya. Selain itu juga bisa berarti bayi sedang belajar untuk duduk yang mana ia butuh sesuatu untuk menjaga keseimbangannya. Cara meresponsnya adalah jika bayi menunjukkan wajah ceria, maka manfaatkan suasana optimisnya untuk memberikan rangsangan positif. Tapi jika ia sedang belajar untuk duduk berikan bantuan saat ia membutuhkan, jika tidak perlu bantuan biarkan ia membangun otot perutnya untuk membantunya duduk tegak. Menarik-narik telinganya Kondisi ini berarti ia mengalami kesulitan dalam melakukan sesuatu, misalnya sebagai tanda susunya terlalu panas, perutnya kembung atau ia perlu bersendawa. Arti lainnya adalah ia merasa tidak nyaman akibat sakit seperti infeksi telinga, sakit tenggorokan atau gangguan di hidungnya. Cara meresponsnya adalah cobalah untuk menenangkannya misalnya dengan membuatnya bersendawa, jika belum tenang juga cobalah untuk menutup tirai, pindah ke ruang lain atau mematikan televisi. Selain itu juga periksa tanda-tanda lain yang membuatnya tidak nyaman, misalnya memeriksa telinga, hidung dan tenggorokannya.

Monday, June 21, 2010

Diary Penting untuk Anak

Diary, penting untuk anak dan tak lagi menjadi benda asing untuk anak di usia sekolah. Sebuah diary berfungsi sebagai catatan harian tentang kejadian yang dialami anak sehari-hari, serta menjadi media untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran anak mengenai sesuatu atau seseorang. Seperti halnya orang dewasa, anak tidak selalu mampu mengekspresikan perasaan dan pemikirannya melalui bahasa verbal karena setiap hati memiliki sisi tersembunyi yang bertepi di ruang privasi. Karena itu, mengungkapkan isi hati tak selalu bisa dengan berbicara. Diary-lah tempat yang tepat untuk mencurahkan perasaan dan gagasan tersimpan. Mengapa diary penting untuk anak?

Menulis diary bisa menstimulasi tumbuhnya kebiasaan menulis, serta berkembangnya kemampuan menulis pada diri anak. Karena itu, tidak ada salahnya jika orang tua mengarahkan dan memfasilitasinya. Orang tua tidak selalu harus membeli buku mungil tersebut, mengajak anak membuat diary dengan memanfaatkan yang ada lebih baik dan kreatif. Diary pertama saya miliki juga sangat sederhana, terbuat dari potongan amplop cokelat besar. Ayah yang keratif membantu saya menggarisi potongan amplop tersebut untuk memudahkan saya menulis. Ayah juga yang menggambari sampulnya dengan gambar vignet cantik karyanya sendiri dengan spidol warna. Sebuah tulisan elok “Tulisanku” tertera di buku kecil itu. Saat itu, saya sendiri gak paham arti diary, tetapi memang suka sekali menulis apa yang saya rasakan dan saya pikirkan, termasuk kesan dan pengalaman tamasya ke tempat-tempat wisata. Diary mungil itu, menjadi benda sejarah sekaligus kenangan manis di masa kecil saya.

Pada usia sekitar 6 tahun (menjelang akhir 7 tahun pertama), anak-anak biasanya sudah bersekolah dan bisa menulis, merangkai huruf dan kata-kata menjadi sebuah kalimat. Seiring pertambahan usia dan pengalaman di lingkungannya, kosa kata yang dimiliki anak pun akan semakin kaya, sehingga orang tua sudah bisa mengenalkan diary pada anak. Memang tidak semua anak akan menunjukkan ketertarikan yang sama dan tidak bisa dipaksa. Akan tetapi, mengenalkan diary merupakan sebuah bentuk stimulus yang patut dicoba sebagai salah satu cara mengenali minat dan bakat anak. Dengan demikian, ada nilai manfaat dari diary untuk perkembangan anak.

Manfaat Diary untuk Anak
Manfaat diary untuk anak sebenarnya berkesinambungan dengan manfaat menulis yang berpengaruh terhadap faktor psikologis, stimulasi kecerdasan emosional, optimasi kecerdasan otak, pengembangan potensi diri dan kemampuan yang bersifat psikomotorik yang sangat dibutuhkan dalam perkembangan anak. Menjelang akhir fase 7 tahun pertama menuju 7 tahun kedua ini, potensi, minat dan bakat anak akan semakin terlihat, berkembang dan perlu diasah. Fase yang sering disebut usia sekolah ini merupakan masa yang penting untuk dioptimalkan sebagai proses belajar, serta mengembangkan kemampuan kreatif anak, termasuk menulis diary. Intinya, di usia ini, anak sudah siap mengisi diary-nya dengan pengalaman dan gagasan yang dimilikinya.

Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa manfaat diary untuk anak.

  • Media untuk mengekspresikan diri.
    Ekspresi anak-anak sangat natural. Berbagai kejadian, pengalaman dan perasaan bisa dicurahkan dalam diary. Suatu saat ia merasa marah dan sedih karena dijahili temannya atau dijauhi sahabatnya. Ia mungkin saja tidak bisa mengungkapkannya karena takut. Namun, melalui diary dia bisa mengungkapkan kebahagiaan, kekecewaan, kemarahan atau kesedihannya, dan mengkespresikan emosi negatifnya dengan menuliskan serangkaian kata atau kalimat yang mewakili perasaannya.Hal ini tentu bermanfaat untuk menjaga kestabilan emosinya karena paling tidak ia tidak memendam emosi negatif yang dapat menimbulkan penyakit. Dengan demikian, menulis diary secara tidak langsung membuat anak belajar jujur dengan dirinya dan menilai orang lain yang terlibat dalam pengalamannya, serta belajar dan berlatih mengelola emosi. Hal ini juga berarti bahwa menulis diary bermanfaat untuk kesehatan mentalnya dan bisa menjadi terapi emosi.

  • Melatih motorik halus.
    Kebiasaan menulis diary dapat meningkatkan kemampuan menulis anak. Bagi anak-anak di usia awal sekolah, hal ini tentu sangat bermanfaat untuk belajar membuat, memperbaiki dan menyempurnakan bentuk huruf atau kerapian dan keindahan tulisan. Akan tetapi, kebiasaan ini tidak serta merta membuat anak bisa menulis indah. Semua itu kembali kepada faktor bakat dan minat anak. Tidak sedikit anak yang cenderung memperhatikan isi tulisan dan lebih cuek dengan kualitas rangkaian huruf yang ditulisnya. Sebaliknya, ada anak-anak tertentu yang tidak terlalu peduli dengan isi tulisan, yang penting tulisannya indah. Namun, paling tidak, dengan berlatih menulis di diary, tulisan semakin baik dan dapat dibaca (tidak terlalu berantakan).

  • Melatih keterampilan menulis.
    Berdasarkan pengalaman saya pribadi, kemampuan menulis tidak akan optimal tanpa pembiasaan. Kebiasaan menulis diary ternyata cukup efektif untuk melatih keterampilan menulis. Dengan terbiasa menulis di diary, lambat laun kemampuan dan keterampilan anak pasti akan meningkat. Mulanya, mungkin anak hanya bisa menuliskan beberapa kalimat pendek yang umumnya berbentuk cerita. Seiring dengan bertambahnya usia dan jenjang pendidikan, isi tulisan pun akan berkembang menjadi sebuah paragraf, sebuah artikel, sebuah cerita, tulisan kronologis atau sebuah biografi yang memerlukan berlembar-lembar kertas. Karena itu, menulis diary dapat dikatakan sebagai sebuah proses kreatif dan proses belajar yang kontinyu.
    Kemampuan merangkai kata-kata sangat bermanfaat ketika usia anak beranjak remaja dan dewasa. Secara kademis, sekolah dan jenjang pendidikan berikutnya memerlukan kemampuan dan keterampilan menulis, begitu pula dengan dunia kerja. Mengerjakan karya ilmiah, makalah, skripsi, laporan kerja, proposal bahkan menulis surat cinta pun membutuhkan keterampilan menulis. Dengan meningkatnya kemampuan dan keterampilan tersebut, maka anak dapat diberi tahu mengenai jenis tulisan fiksi dan nonfiksi atau tulisan bersifat resmi, sehingga lebih mudah mencari arah bakat dan minatnya kelak. Dengan menulis diary, anak bisa lebih memahami diksi, gaya bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik dan benar

  • Mengasah bakat menulis dan meningkatkan minat menulis.
    Semua anak mungkin bisa menulis, tetapi tidak semua anak berbakat menjadi penulis. Anak yang berbakat akan menghasilkan tulisan yang lebih baik. Dengan menulis diary, bakat dan kemampuan menulis anak sangat mungkin tergali dan terasah secara pesat, sehingga kita juga bisa mendorong minatnya untuk lebih fokus dan konsisten. Dengan membiasakan menulis diary, kemampuan anak tidak terbatas kepada menulis tugas-tugas sekolah. Anak bisa lebih mengembangkan keterampilan menulis cerpen, puisi, naskah drama, karya ilmiah atau bahkan novel. Namun, perlu diperhatikan bahwa untuk mengoptimalkan bakat ini diperlukan dorongan kuat dari minat. Karena itu, dorongan orang tua untuk menumbuhkan minat menulis melalui diary merupakan upaya yang positif.

  • Sarana untuk mengungkapkan gagasan.
    Tidak semua anak mampu mengungkapkan atau mengkomunikasikan pikiran dan gagasannya melalui bahasa verbal. Ada banyak anak yang merasa lebih mudah menuangkan ide-ide dan pemikirannya melalui tulisan. Kebiasaan menulis diary bisa menjadi sarana dan cara untuk menampung ide-ide tersebut yang mungkin bisa bermanfaat di suatu hari. Mungkin saja ia berbakat menjadi konseptor, pembuat ide-ide kreatif atau penemu berbagai inovasi di masa depannya.

  • Mengasah imajinasi.
    Anak kecil selalu punya imajinasi yang kadang kala sulit dipahami logika orang dewasa. Imajinasi anak merupakan bagian dari ide-idenya yang bermanfaat untuk perkembangan kecerdasan kreatifnya. Imajinasi tersebut muncul dan berkembang seiring perkemabangan kemampuan verbalnya, serta proses meniru dari hal-hal yang didengar dan dilihatnya, seperti cerita atau tayangan televisi. Menulis diary bisa menjadi sarana untuk mencurahkan imajinasinya yang tidak bisa diungkapkannya dengan berbicara langsung. Sebenarnya, menulis dapat dikatakan sebuah proses imajinatif, terutama untuk tulisan-tulisan fiksi. Imajinasi bisa membuat menulis dan tulisan itu menjadi menarik. Karena itu, menulis diary dapat mengasah imajinasi karena di buku itu, anak bebas mengekspresikan perasaan, gagasan dan pengalamannya. Dalam hal ini, orang tua tetap harus berperan proaktif untuk memantau dan mengembangkan imajinasi anak.


Bagaimanapun, diary merupakan buku kehidupan yang menggambarkan cerita hati seseorang, termasuk anak-anak. Kejujuran perasaan, kealamian gagasan dan keragaman pengalaman di masa kecil yang tertuang dalam diary tidak hanya menjadi kenangannya kelak, tetapi memiliki nilai kedekatan emosional yang akan mempengaruhi kepribadian dan pemahaman akan dirinya nanti. Diary untuk anak bisa menjadi pembelajaran bagi kita, para orang tua untuk menghargai arti privasi bagi anak, serta pentingnya menstimulasi kecerdasan dan perkembangan anak melalui menulis. Semoga bermanfaat.

Ciri-ciri Anak Kreatif

Anak kreatif adalah anak yang dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya dengan baik. Perkembangan kemampuan dan kecerdasannya sering kali membuatnya bersikap dan berperilaku cukup aktif, banyak bergerak dan bersuara. Hal ini sering pula diidentifikasi sebagai kenakalan oleh banyak orang tua. Padahal, aktivitas dan mobilitasnya yang berlebih merupakan wujud kemampuan berpikirnya yang serba ingin tahu. Sebelum kita men-judge bahwa anak kita nakal, alangkah bijaknya jika kita mencoba mengetahui dan memahami ciri-ciri anak kreatif berikut ini.

  1. Berpikir lancar
    Anak kreatif mampu memberikan banyak jawaban terhadap suatu pertanyaan yang kita berikan. Dalam kejadian sehari-hari, kita sering bertanya “apa”, maka sering pula dijawab dengan banyak jawaban, meskipun kadang-kadang jawabannya agak melenceng alias “ngaco”. Namun, itulah salah satu kehebatan anak kreatif. Dalam jangka panjang, anak kreatif mampu memberikan banyak solusi atas masalah yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena di masa depannya hidup akan penuh masalah dan tantangan. Dengan kreativitasnya, maka ia akan lebih mudah menjawab masalah dan tantangan tersebut.

  2. Fleksibel dalam berpikir
    Anak kreatif mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang (fleksibel), sehingga ia mampu memberikan jawaban variatif. Hal ini akan memudahkannya menjalani kehidupan dan menyesuaikan diri dalam berbagai keadaan. Seringkali tanpa kita sadari, anak memberikan jawaban atau komentar yang solutif atas pertanyaan dan pernyataan kita. Misalnya, “Si Bibi kemana sih,  jam segini belum datang, dasar malas menunda-nunda pekerjaan terus…,” dengan tiba-tiba ia berkata ”Mungkin Bibi sakit, Bu.”

  3. Orisinil (asli) dalam berpikir
    Anak kreatif mampu memberikan jawaban-jawaban yang jarang diberikan anak lain. Jawaban–jawaban baru yang tidak lazim diungkapkan anak-anak atau kadang tak terpikirkan orang lain,  di luar perkiraan dan khas. Misalnya, sang Ibu mempertanyakan baju anaknya yang kotor dengan nada sedikit kesal. “Sayang, kenapa bajumu kotor begini sih, Ibu kan sudah bilang jangan kotor-kotoran?” Jawaban si anak. “Tadi kecipratan air hujan, Bu. Teman-teman pada main ciprat-cipratan air hujan sama lumpur. Lagian kalau hujan kan Ibu seneng, banyak air buat nyuci sama mandi.”

  4. Elaborasi
    Anak kreatif mampu memberikan banyak gagasan dengan menggabungkan beberapa ide atas jawaban yang dikemukakan, sehingga ia mampu untuk mengembangkan, memperkaya jawabannya secara rinci dan detail hingga hal-hal kecil. Misalnya, “Mengapa rumah berantakan?” jawab si anak  “Ini risiko, Bu. Aku kan main, bolak-balik ke dapur ngambil makanan dan minuman, lari-lari, ketendang, jadi tumpah deh. Namanya juga main.”

  5. Imaginatif
    Anak kreatif memiliki daya khayal atau imajinasi yang ia aplikasikan dalam kegiatannya sehari-hari. Ia menyukai imajinasi dan sering bermain peran imajinasi. Misalnya, ia membayangkan dirinya sebagai Ibu, maka ia akan berperan sebagai ibu dalam segi bicara dan perilakunya. Dalam tataran anak remaja, imajinasi ini biasanya berupa fiksi ilmiah, yakni sudah cukup mampu mengembangkan imajinasinya dalam bentuk-bentuk keilmuan, seperti menulis cerpen atau naskah drama, menciptakan lirik lagu, bermusik dengan genre tertentu, dan lain-lain.

  6. Senang menjajaki lingkungannya
    Anak kreatif senang dengan bermain. Bermain dan permainannya itu selain menyenangkannya juga membuatnya banyak belajar. Ia bisa mengumpulkan dan meneliti makhluk hidup, serta benda mati yang ada di lingkungannya. Hal ini tentu saja bermanfaat untuk masa depannya karena ia akan selalu belajar dan mengasah rasa ingin tahunya terhadap sesuatu secara mendalam. Ciri ini juga terkait dengan kecerdasan anak secara naturalis. Msalnya, karena ia senang meneliti makhluk hidup, maka ia senang memelihara binatang atau tanaman yang disukainya dan memberinya nama.

  7. Banyak mengajukan pertanyaan
    Anak kreatif sangat suka mengajukan pertanyaan, baik secara spontan yang berkaitan dengan pengalaman barunya maupun hasil ia berpikir. Sering kali pertanyaan yang diajukannya membuat kita sulit dan merasa terjebak. Karena itu, kita harus memiliki strategi yang tepat dengan berhati-hati memberikan pernyataan dan harus siap dengan jawaban yang membuatnya mengerti. Misalnya, kita mengajarkan bahwa Tuhan selalu melihat kita dan tahu segala perbuatan kita karena Tuhan itu ada di mana-mana, maka ia dapat mengajukan pertanyaan “Tuhan itu laki-laki atau perempuan? Tuhan itu ada banyak ya? Kan ada dimana-mana?”. Jika tidak kita berikan jawaban yang memuaskannya, maka ia akan terus mengajukan pertanyaan.

  8. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
    Anak kreatif suka memperhatikan sesuatu yang dianggap menarik dan mendalaminya sampai puas. Rasa ingin tahu anak kreatif sangat tinggi, sehingga ia tak akan melewatkan kesempatan untuk bertanya. Karena itu, kita sering dibuatnya agak kewalahan bahkan jengkel dengan menganggap anak kita bawel. Padahal itulah kehebatannya, rasa ingin tahunya akan membuatnya haus ilmu, memiliki daya kritis dalam berpikir dan tidak cepat percaya dengan ucapan orang sebelum membuktikan kebenarannya. Misalnya, kita sedang bertamu ke rumah seseorang. Ia melihat kristal yang menarik. Matanya selalu tertuju ke sana dan pelan-pelan mendekati kristal itu, diangkat…lalu jatuh dan pecah. Ia berkata “Habis berat sih, jadi dibagi dua saja, deh!” Reaksi kita tentu saja kesal, marah dan merasa malu. Karena itu, fokus dan konsentrasi terhadap anak kreatif harus benar-benar diperhatikan. Cara berpikirnya yang cepat dan lancar akan membuatnya mudah bertindak memuaskan keingintahuannya.

  9. Suka melakukan eksperimen
    Anak kreatif suka melakukan percobaan dengan berbagai cara untuk memuaskan rasa penasaran dan rasa ingin tahunya. Karena itu, sebagaimana contoh di atas, orang tua harus bayak mendampingi dan membimbingnya, tetapi tidak bertujuan menghambat atau terlalu mencampuri eksperimennya itu. Memberikan penjelasan tentang baik dan buruknya sesuatu lebih baik daripada berkata “jangan” atau “tidak boleh”.

  10. Suka menerima rangsangan baru Anak kreatif sangat suka mendapatkan stimulus atau rangsangan baru, serta terbuka terhadap pengalaman baru. Hal ini berkaitan dengan rasa ingin tahunya dan kesukaannya bereksperimen. Semakin banyak stimulus yang kita berikan, maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapatkannya dan semakin banyak pula percobaan yang dilakukannya, sehingga proses dan kemampuan berpikirnya akan terus berkembang dan mengasah kecerdasan otaknya.

  11. Berminat melakukan banyak hal
    Anak kreatif memiliki minat yang besar terhadap banyak hal. Ia suka melakukan hal-hal yang baru, berani mencoba hal baru dan tidak takut terhadap tantangan. Dengan mengetahui antusiasme dari minatnya terhadap sesuatu akan membantu orang tua mengenali bakat anak, sehingga sejak dini bisa mengembangkan minat dan bakatnya secara berdampingan dan berkesinambungan. Selain itu, keberanian melakukan hal-hal baru dapat memupuk rasa percaya dirinya yang bermanfaat untuk perkembangan kepribadiannya kelak.

  12. Tidak mudah merasa bosan
    Anak kreatif tidak mudah bosan melakukan sesuatu. Ia akan melakukannya sampai ia merasa benar-benar puas. Jika sudah puas, maka ia akan melakukan sesuatu yang lain lagi. Inilah ciri kreativitasnya yang menonjol. Ketidakbosanan merupakan aset berharga yang akan membuatnya terus mencari hal-hal yang dapat menginspirasinya untuk berkreasi dan berinovasi dengan hal-hal yang dialaminya dan dilihatnya, sehingga proses kereatifnya terus berjalan seiring pertumbuhan usianya.


Kreativitas lahir bukan semata-mata karena faktor keturunan, tetapi lebih karena adanya faktor stimulasi dari lingkungan anak. Dalam hal ini, stimulus dan bimbingan orang tua merupakan faktor utama dalam menumbuhkembangkan kreativitas anak. Dengan mengenali dan memahami ciri anak kreatif, orang tua dapat mengoptimalkan kemampuannya untuk mengembangkan kreativitas anak-anaknya. Karena itu, anak merupakan anugerah yang harus kita syukuri, membuat kita belajar dari dan tentang banyak hal dalam kehidupan. Semoga bermanfaat.

Membentuk Kepribadian Anak

Anak-anak adalah petualang dan pembelajar sejati yang penuh kejujuran dalam merealisasikan pikiran dan mengekspresikan perasaannya. Semua orang tua tentu ingin membahagiakan anak-anaknya, melihat mereka tumbuh sehat, cerdas dan sukses dalam kehidupannya. Namun, dalam praktiknya, keinginan tersebut seringkali menjadi ekspektasi yang berlebihan bahkan ambisi yang justru bisa menimbulkan masalah bagi proses pembentukan kepribadiannya.

Dalam prosesnya, kepribadian terbentuk berdasarkan hasil meniru, baik dari dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan luar. Akan tetapi, faator internal dalam keluarga seperti kasih sayang, perhatian, pola asuh, didikan, serta metode pendekatan dalam membentuk kepribadian juga membangun kecerdasannya memiliki porsi lebih besar.  Di samping itu, kita juga harus menyadari dan memahami adanya faktor alami seperti bakat dan dorongan minatnya. Karena itu, dalam upaya membentuk kepribadian dan mendidik anak, serta mengantarkannya menuju kesuksesan ada beberapa hal berikut yang harus benar-benar dipahami orang tua.

Pertama, hindari ekspektasi dan ambisi berlebihan dalam mendidik, mengarahkan dan membentuk kepribadian serta perkembangan anak. Ambisi berlebihan berpengaruh terhadap pemaksaan kehendak yang seringkali membawa masalah dalam pola asuh, komunikasi, serta hubungan orang tua dan anak di fase-fase berikutnya. Tidak sedikit anak yang mengalami stress, frustasi bahkan depresi karena merasa gagal, tidak mampu memenuhi keinginan orang tua, sehingga mereka banyak yang merasa menjadi “korban” ambisi orang tua, objek idealisme yang kurang realistis, bahkan menjadi target sebuah kepentingan. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan kepribadiannya. Bisa saja ia akan menjadi pribadi yang kurang percaya diri, pesimis, takut salah, tidak berani mengambil keputusan.

Kedua, memahami siklus kompetensi dan pertumbuhan otak anak, sehingga orang tua dapat menghargai dan memperlakukan anak secara adil. Dalam hal ini, orang tua harus memahami tingkat kemampuan anak dan tingkat kecerdasan anak. Tidak semua anak memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, tetapi sebagai orang tua kita harus berupaya menstimulasi pertumbuhan otaknya dan mengoptimalkan kompetensi anak. Hal ini juga perlu ditunjang dengan keadilan dalam sikap, cara berbicara dan cara memperlakukan mereka sebagai subjek kehidupan yang akan terus tumbuh dan berkembang.

Ketiga, memahami multiple intellegencies anak, sehingga orang tua dapat mengenali dan memahami bakat juga minat anak untuk kemudian mengarahkannya dengan benar  Dengan memahami hal ini, orang tua dapat mengasah, memupuk dan mengarahkan bakat, serta menumbuhkan minat anak di bidang tertentu yang bisa menjadi pegangan penting dalam kehidupannya di masa depan. Tidak sedikit anak-anak yang terlihat biasa saja dalam kecerdasan kognitifnya, tetapi memiliki bakat tertentu yang justru membuatnya lebih kreatif dan sukses. Kecerdasan intelektual bukan satu-satunya pembentuk kecerdasan otak yang penting untuk dikembangkan. Dalam kehidupan nyata sehari-hari, faktor kecerdasan emosional dan advertisal lebih banyak membantu membangun kepribadian anak yang lebih matang, lebih siap menghadapi masalah.

Keempat, pahami konsep ”sekolah unggul” dengan benar, yakni adanya keselarasan pemahaman prinsip antara metode pendidikan sekolah dengan pola asuh dan didikan di rumah, sehingga ada kesamaan atau kesesuaian pendekatan antara keduanya. Sekolah dapat dikatakan sebagai rumah kedua bagi anak. Keunggulan sebuah sekolah tidak hanya terletak pada kelengkapan fasilitas, tetapi juga keunggulan metode pendidikan dan penerapannya, adanya harmoni komunikasi dengan pendidikan keluarga, atau bahkan mampu menginspirasi dan memperbaiki pola-pola yang salah dalam pendidikan di rumah. Lebih dari semua itu, faktor kenyamanan anak dalam belajar dan bersekolah menjadi hal yang harus lebih diutamakan karena hal ini akan berpengaruh terhadap perkembangan pribadi dan mentalitasnya di kemudian hari, meskipun pendidikan di sekolah hanya sebagai penunjang pendidikan keluarga.

Keempat hal tersebut, bila kita perhatikan berkaitan dengan pentingnya memahami karakter anak dalam membentuk dan mengembangkan kepribadian anak. Karakter terletak di alam bawah sadar yang meliputi memori, self image, personality dan habit. Keempat faktor pembentuk karakter tersebut sangat membantu pemahaman kita atas keempat hal di atas. Jika dalam diri anak terdapat banyak memori negatif yang disertai dengan self image yang buruk seperti memberikan label ‘anak bodoh’, maka akan membentuk kepribadian yang negattif dan kebiasaan yang buruk pula. Oleh karena itu, ciptakan suasana yang nyaman, pembiasaan-pembiasaan yang positif, serta sikap dan perlakuan yang menyenangkan bagi anak agar ia memiliki kenangan indah dan tumbuh menjadi pribadi yang positif.

Mengatasi Stres pada Anak

Di masa sekarang, kemampuan dan keterampilan orang tua menghadapi juga mengatasi stres pada anak menjadi hal tidak saja penting (important), tetapi sangat penting dan cukup genting (urgent). Stres merupakan fitrah yang bisa dialami siapa saja dan tidak selalu bisa kita hindari. Kemampuan dan kesiapan menghadapi stres pada anak-anak dan orang dewasa jelas berbeda meskipun masalah yang menyebabkannya sama. Anak-anak tentu sangat membutuhkan bantuan yang bukan sekedar dukungan moril. Mereka membutuhkan cinta, kasih sayang, perhatian, bimbingan dan keterlibatan peran orang tua untuk menguatkan ketahanan mentalnya dalam menyikapi dan mengatasi masalah, termasuk stres.

Dengan memahami gejala dan sumber penyebab stres pada tulisan sebelumnya, kita dapat mencari dan menentukan langkah untuk mengatasinya. Untuk mengatasi stres pada anak, diperlukan tindakan pencegahan, pengendalian serta melatih kesiapan anak sendiri. Melatih kecerdasan anak (terutama kecerdasan spiritual, emosi dan adversitasnya), menjaga kesehatan fisiknya, melatih kemampuan dan keterampilannya menghadapi tantangan atau masalah bisa menjadi langkah penanggulangan stres baik untuk anak. Latihan ini dapat menjadi bekal pembiasaan, baik fisik maupun sikap mental yang baik untuk perkembangannya, sehingga anak bisa memiliki ketahanan terhadap terpaan masalah dan stres. Paling tidak dalam hal ini, orang tua memiliki kemauan untuk lebih peduli, lebih memperhatikan dan lebih memahami faktor kesehatan dan perubahan tingkah laku si kecil demi menghadapi kemungkinan ia terbelenggu stres.

Mengapa hal itu penting kita lakukan? Karena stres berdampak besar terhadap kesehatan fisik dan mental anak, serta mengganggu proses tumbuh kembang anak dan pembentukan kepribadiannya. Bagaimana dampaknya?

Dampak Stres pada Anak


Dampak positif
Stres yang berdampak positif umumnya merupakan bagian yang normal dari proses belajar dalam kehidupan anak setiap hari. Misalnya, ketika anak mengikuti perlombaan tertentu, ia akan belajar arti kompetisi dalam mencapai keberhasilan. Stress yang dialami dalam kompetisi seperti ini bisa diarahkan untuk memotivasi semangat belajar, berlatih dan bekerja keras mencapai kemenangan, serta melatih kesiapan mental anak menghadapi kegagalan dan menerima kekalahan. Contoh lain, stres yang dialami anak ketika belajar bersepeda bisa dikembangkan untuk memotivasi usaha dan keinginanya agar cepat bisa. Bersepeda juga mengajarkan anak tentang teknik kecepatan dan keseimbangan, serta belajar mengenai sakit karena jatuh lalu bangkit untuk kembali belajar dari kesalahan sewaktu jatuh tadi. Bentuk stres seperti ini memberikan stimulasi positif untuk perkembangan kemampuan dan kecerdasannya sebagai bentuk belajar menghadapi tantangan, serta melatih keterampilan menyelesaikan masalah. Stres dalam tingkat ini tentu bukan bagian dari rasa tertekan yang mendalam yang bisa mengganggu perkembangannya.

Dampak negatif
Stress pada anak yang dibiarkan berlanjut dan berkepanjangan bisa menyebabkan dampak yang membahayakan. Dalam jangka pendek, dampak negatif stres ialah mengacaukan dan merusak emosi anak yang ditandai dengan gampang marah, sulit berkonsentrasi, dan mengalami kegelisahan yang berakibat sering mengompol. Dampak jangka panjangnya ialah bisa membuat anak mengalami chronic sress dan depresi di masa kecil. Kedua hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan dan perkembangan mental anak. Stres berkepanjangan membuat kualitas hidup anak begitu rentan karena stres sangat berisiko menurunkan kekebalan tubuh (immune system) yang bermanfaat dalam melawan penyakit dan infeksi. Stres juga bisa merusak sistem pencernaan, menghambat pertumbuhan dan perkembangan fisik, mengacaukan dan merusak stabilitas emosi, serta mengganggu perkembangan sel-sel otak anak.

Dampak negatif stres pada anak begitu serius. Jika kita sebagai orang tua tidak segera melakukan upaya pencegahan, penanggulangan dan mempersiapkan kemampuan anak untuk terlatih menghadapi stres, maka stres bisa mengubah dan merenggut keindahan masa kecil anak. Hal ini bisa ikut mempengaruhi kemampuan dan keberhasilannya dalam bersosialisasi dengan teman-temannya dan lingkungannya, menurunkan daya prestasinya (di sekolah), serta kesulitan dalam mengembangkan bakat dan minatnya sebagai salah satu faktor penting dalam proses perkembangannya dan kepribadiannya.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dampak negatif stres lebih banyak terjadi pada anak berusia di bawah 10 tahun yang memiliki temperamen sulit dan anak yang dilahirkan prematur. Dengan demikian, usia balita sangat rentan terhadap stres, sehingga hal-hal baru yang dialaminya bisa berpotensi menimbulkan stres yang berdampak negatif terhadap mereka.

Bagaimana cara kita mengatasi hal tersebut? Untuk membantu mengatasi stres pada anak, diperlukan strategi pengendalian yang tepat dari orang dewasa, khususnya orang tua dan keluarga. Hal ini tentu harus berdasarkan tingkat usia dan perkembangan anak. Karena itu, kita perlu mempertimbangkan strategi atau upaya yang akan kita lakukan dengan kemampuan anak dalam memahami keadaan yang sedang mereka alami. Para pakar anak menyebutkan bahwa ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah serta mengurangi stres pada anak. Cara-cara ini berawal dari tingkat pencegahan, pembelajaran dan latihan pengendalian, hingga penanggulangan stres pada anak.

Mencegah stres pada anak


Sebelum si kecil mengalami stres, alangkah baiknya jika orang tua selalu berusaha menjalin dan menjaga kedekatan hubungan dengan anak secara harmonis, dengan melakukan hal-hal berikut ini.

  • Berkomunikasi dengan anak secara aktif dalam berbagai hal merupakan cara yang tepat untuk mengetahui dan memahami banyak hal tentang anak. Apa yang tengah ia rasakan, masalah apa yang ia hadapi, serta gagasan-gagasan apa yang ingin ia keluarkan. Menjadi penanya dan pendengar yang aktif dan responship merupakan kunci berkomunikasi dengan si kecil. Makan bersama, ngobrol atau meluangkan waktu untuk menemaninya bermain dan mendampinginya mengerjakan tugas/PR, kita bisa mengetahui dan memahami perubahan-perubahan sikap atau tingkah si kecil, serta perkembangan kondisi buah hati kita. Hal ini selain menjaga kedekatan batin dan kepercayaan, juga bisa menjadi kebiasaan anak untuk mengkomunikasikan pengalaman emosional dan intelektualnya terhadap orang tuanya. Dengan menjaga kelancaran berkomunikasi dengan anak, kemungkinan anak mengalami stres bisa dicegah

  • Bersikap terbuka terhadap anak, dengan mengkomunikasikan hal-hal dalam keluarga secara proporsional. Hal-hal baru dalam keluarga bisa menyebabkan stress pada anak, misalnya kelahiran adiknya atau kehadiran anggota keluarga baru. Penting bagi orang tua untuk jauh-jauh hari menyampaikan hal ini kepada anak, serta mempersiapkan mental anak dengan cara memberikan pengertian dan pemahaman yang bisa membuatnya menerima perubahan tersebut. Berikan kesempatan pada anak untuk bertanya mengenai hal ini sesuai dengan keingintahuannya, sehingga orang tua bisa menilai sejauh mana pengertian dan pemahaman anak mengenai hal ini. Dengan melakukan hal ini, kemungkinan anak terkena stres bisa dicegah.

  • Jangan membebani anak dengan masalah yang dihadapi orang dewasa atau orang tua. Berikan anak pengertian mengenai tujuan hidup keluarga, dan ssesekali ajaklah anak berdiskusi mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi keluarga dengan sikap bersahabat dan menyenangkan, serta cara yang bisa dimengerti anak.

  • Jangan membebani anak dengan tuntutan yang terlalu banyak dan berlebihan, misalnya harus selalu juara kelas, harus berprestasi di bidang tertentu dan harus menjadi nomor satu dalam segala hal, hanya akan membuatnya terbebani dan tertekan. Mereka bukan yang sempurna, memiliki kelemahan, kekurangan yang harus kita terima. Berikan ia kebebasan untuk menemukan kenyamanan dalam diri dan aktivitasnya. Jangan pula membebani anak secara berlebihan dengan mengharuskan mengikuti banyak aktivitas seperti les atau kursus di luar sekolah. Sekolah dan materi belajar di sekolah, serta tugas-tugas sekolah (PR) pun sudah cukup berat dan padat. Kalaupun ingin memberikan les, berikan yang sesuai dengan minat dan bakatnya agar ia merasa nyaman dan tidak merasa dipaksa. Bantu dan berikan kesempatan si kecil untuk belajar mengatur waktu mereka dengan baik


Melatih si kecil menghadapi stres


Stres yang dialami si kecil bisa berawal dari hal-hal yang kita anggap biasa, seperti berebut mainan dengan temannya, cara dan ekspresi kita saat menegurnya atau tugas sekolah. Jika ia stres dengan hal tersebut, maka ia akan mengalami kegelisahan. Hal ini bisa berlarut-larut jika kita biarkan. Ketika si kecil menunjukkan gejala-gejala stres bahkan depresi, segera dekati dan ajak ia bicara, dan tanyakan penyebabnya dengan cara yang tidak membuatnya merasa diserang atau dipaksa. Mulailah berbicara, ngobrol sebagai sahabat sekaligus orang tuanya untuk menyiapkan kemungkinan mengeliminasi penyebab kegelisahannya dan mengatasinya. Orang tua bisa mengajarkan anak berlatih menghadapi dan mengurangi kadar stres dengan relaksasi ringan ala Michele Borba, pengarang Big Book of Parenting Solution seperti dilansir kompas.com berikut ini.

  1. Melatih pernapasan
    Ajarkan si kecil untuk meniupkan kekhawatirannya lewat hembusan napas. Ajar mereka untuk melakukan gerakan seakan meniup balon yang ada di dalam perutnya. Gerakan ini dimaksudkan agar si kecil menghirup napas yang dalam, tahan hingga 3 hitungan, lalu hembuskan sambil mengeluarkan suara “aaaa”. Letakkan telapak tangan si kecil pada perutnya untuk ia merasakan napasnya yang masuk ke dalam perutnya. Seringnya si kecil bernapas dengan dada dengan gapah, bukan dengan perutnya. Mengambil napas dalam-dalam dan perlahan adalah cara termudah untuk meredam stres dan membiarkan kekhawatiran mereda.

  2. Membiarkan ketegangan melayang
    Coba minta anak Anda untuk menegangkan setiap otot pada tubuhnya dan kaku seperti kayu, sehingga setiap tulang pada tubuhnya tegang. Tunggu beberapa saat, lalu dalam hitungan cepat, minta ia untuk membuat tubuhnya sangat lunglai. Saat ini dilakukan berulang kali, ia akan mengetahui cara membuat tubuhnya relaks. Ketika ia sudah mengenali tubuhnya sendiri, ia bisa menyadari bagian-bagian mana pada tubuhnya yang terasa kaku ketika ia sedang dalam tekanan (stres), entah itu lehernya, pundaknya, atau rahangnya. Ketika salah satu bagian pada tubuhnya menegang akibat stres, minta ia untuk menutup matanya, berkonsentrasi pada titik tersebut, buat bagian tersebut menegang selama 4 detik, lalu lemaskan. Saat melakukan teknik ini, minta ia untuk membayangkan stres dan kekhawatirannya terbang mengawang dari atas kepalanya dan jari-jari kakinya hingga ia benar-benar merasa tenang dan kalem.

  3. Kata-kata positif untuk tetap tenang
    Ajarkan si kecil untuk mengucapkan kata-kata penguatan di dalam kepalanya untuk meredakan ketegangan. Cari cara dan bahasa yang mudah ia katakan dan artinya cukup besar, misal “Tenang,” “Aku pasti bisa,” “Tenang dan bernapas pelan,” atau “Ini bukan hal yang sulit.”

  4. Tempat nyaman
    Coba tanyakan pada si kecil, di mana ia biasa merasa sangat tenang. Misal; pantai, ranjangnya, rumah kakek, atau tempat bermainnya yang lain. Ketika ia merasa sangat tegang, mintalah ia untuk menutup matanya dan membayangkan lokasi tadi sambil bernapas perlahan.

  5. Formula  1 + 3 + 10
    Katakan pada si kecil, ketika ia mulai merasakan tubuhnya tegang karena ada rasa tertekan, ajarkan ia formula 1+3+10. Pertama, angka 1 merupakan ucapan ia dalam hatinya untuk “tenang”. Selanjutnya, angka 3 melambangkan banyaknya napas perlahan dan mendalam yang harus ia hirup dan hembus dari perutnya. Sementara angka 10, merupakan hitungan yang di dalam kepalanya. Tempelkan formula ini di kamarnya atau di lemari es agar ia terus mengingat formula tersebut.

  6. Kotak pembasmi stres
    Tak ada cara yang benar maupun salah dalam mengurangi tingkat stres. Kuncinya hanyalah menawarkan pilihan agar si kecil bisa memilih apa yang terbaik untuknya. Ketika ia sudah menemukan penghilang stresnya sendiri, ia harus terus melatihnya hingga ia bisa menghapuskan stresnya sendiri. Keluarga bisa menciptakan kotak pembasmi stres. Isi kotak tersebut dengan alat-alat pembasmi stres. Misal, kertas kosong dan pensil (untuk menggambar stres yang pergi menjauh), bola remas, lilin mainan atau tanah liat untuk dibentuk, mp3, atau cd relaksasi. Isi kotak ini bisa digunakan tiap ada anggota keluarga yang merasa stres atau tertekan.

  7. Relaksasi dan pernapasan dengan yoga
    Saat ini latihan yoga sudah sangat bervariasi dan bisa diikuti oleh siapa pun, termasuk anak-anak. Coba ikuti kelas yoga bersama si kecil agar ia bisa belajar melatih pernapasan. Atau belilah DVD yoga untuk berlatih bersama di rumah.


Cara-cara di atas dapat melatih dan mempersiapakan si kecil menghadapi stres yang bisa menyerangnya kapan saja, sehingga anaka memiliki senjata psikologis untuk menghadapi berbagai tantangan dalam dunianya, serta belajar mengendalikan emosinya dalam menghadapi masalah, dengan kondisi fisik dan mental yang lebih sehat. Lalu bagaimana cara menanggulangi atau mengatasi stres yang sudah telanjur menyerang anak?

Menanggulangi stres yang dialami anak


Selain tindakan mencegah, melatih dan mengendalikan stres, sebagai orang tua, kita juga harus mau dan mampu menanggulanginya agar stres yang dialami anak tidak berlarut-larut dan berkepanjangan menjadi depresi. Kita bisa melakukan beberapa hal berikut berkaitan dengan menjaga kondisi fisik, stabilitas emosi dan menciptakan lingkungan yang nyaman.

  • Berikan anak asupan nutrisi yang baik dan bergizi agar kondisi badannya tidak melemah. Atur pola istirahatnya dengan tidur cukup agar sel-sel otaknya bisa rileks dan memacu pertumbuhan hormon-hormon pembangkit mood juga semangat. Kedua hal ini sangat membantu kestabilan tenaga dan emosi anak-anak dalam menghadapi stress.

  • Luangkan dan ciptakan quality time untuk anak. Manfaatkan sesempit apapun waktu untuk berkomunikasi dengan anak setiap hari. Tanyakan kondisi anak, dengarkan ketika ia bercerita mengutarakan masalah yang sedang dihadapinya, berikan respon positif dan biarkan ketika ia menuliskan apa yang dipikirkan dan dirasakannya dengan menulis diary. Hal ini akan membantu mengurangi kadar stres bakan bisa mengobatinya karena ia merasa sangat berarti bagi orang tuanya.

  • Ciptakan suasana nyaman di rumah dan siapkan lingkungan yang mendukung bagi perkembangan anak, sehingga ia dapat bermain, berimajinasi, mengembangkan kreativitasnya, serta mengekpresikan bakat seninya, seperti bermusik, menggambar, menulis, menari dan berkerasi dengan kertas atau tanah liat. Seni-seni seperti ini bisa menjadi terapi kecerdasan dan kesehatannya.

  • Bantulah si kecil untuk belajar mengidentifikasi bermacam strategi penanggulangan stres. Misalnya, mengajarkannya cara meminta pertolongan jika ada seseorang yang mengganggunya, mengajarinya bersikap terbuka dengan mengatakan apa yang disukai dan tidak disukainya atau meninggalkan orang yang bisa menganggu kenyamanannya

  • Berikan anak pengetahuan dan pengertian untuk mengenal emosi, menamai bentuk-bentuk emosi atau perasaannya, serta menerima dan mengekspresikannya dengan tepat. Hal ini dapat membantunya mengelola emosi dan menyalurkan stresnya

  • Ajarkan anak untuk mentransfer strategi pengendalian stres dengan mengalihkannya kepada situasi yang lain, misalnya membayangkan tempat-tempat yang disukai untuk dikunjungi dan menghayal mengunjungi tempat-tempat tersebut. Hal ini juga befungsi sebagaai langkah melatih anak menghadapi stres.

  • Berikan pujian yang logis dan wajar setiap kali mereka melakukan hal-hal yang baik. Pelukan hangat atau ciuman sayang bisa dilakukan agar mereka merasa dihargai dan dicintai, sehingga ketika ia mengalami stres ia tidak akan merasa dirinya benar-benar “hilang” dan tak berguna. Ia akan merasa memiliki orang yang siap mendukungnya dan mempercayai orang tuanya.

  • Ciptakan dan gunakan humor-humor segar untuk mencairkan kegelisahan dan kesedihannya akibat stres. Ajaklah ia menonton tayangan komedi yang baik, yang bisa membuatnya tertawa lepas. Humor bisa menjadi penyangga perasaan dari situasi yang kurang baik, dan tertawa senang bisa meningkatkan mood-nya. Selain itu, humor juga baik untuk menjaga persepsi anak tentang hidup dan permasalahannya. Anak bisa memandang masalah yang dihadapinya dengan sisi humornya, sehingga ia tidak terbelenggu stres.

  • Berikanlah contoh dan teladan yang baik kepada mereka sehingga mereka akan meniru tingkah laku orang tuanya. Tunjukkan kepada mereka keahlian untuk mengontrol pengendalian diri dan keahlian untuk mengendalikan stress. Dengan melihat hal ini akan memberikan keuntungan bagi mereka karena nantinya mereka akan mampu mengendalikan stress mereka secara baik.

  • Cari informasi mengenai penanggulangan stres pada anak melalui media massa, seperti televisi, koran, majalah, dan internet. Saling berbagi pengalaman mengasuh anak dan bertukar pikiran mengenai masalah anak-anak dengan teman atau sahabat sangat bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai penanggulangan stres. Jika masalah yang dihadapi terlalu berat untuk dihadapi sendiri, jangan segan untuk mengajak anak berkonsultasi dengan ahli atau para profesional.

  • Tanamkan dan ajarkan nilai-nilai agama pada anak sejak dini. Sebaik-baik tempat berkeluh kesah dan mengembalikan masalah adalah Allah SWT. Ajaklah si kecil untuk membiasakan diri beribadah dan berdoa untuk menumbuhkan kebutuhan spiritual dalam dirinya, serta mengembangkan kecerdasan spiritualnya dalam menghadapi stres yang ia alami. Kelak, pembelajaran dan pendidikan seperti ini bisa membentengi mental dan jiwanya dari keterpurukan saat menghadapi masalah karena ia mempercayai dan meyakini kekuatan Tuhan.


Sejatinya, dalam setiap kesulitan ada kemudahan, dan dalam setiap masalah tersimpan hikmah bagi orang yang mau membacanya. Pengetahuan dan pemahaman yang benar mengenai stres merupakan informasi, wawasan keilmuan yang bermanfaat bagi kita, para orang tua dalam menerapkan strategi untuk mencegah, mengendalikan, melatih kesiapan anak mengahdapi stres, serta mengatasinya. Dengan demikian, kita bisa menyelamatkan masa tumbuh kembang si kecil dan mengembangkan potensinya secara optimal. Insya Allah. (Nia Hidayati)

Menjadi Sahabat Anak

Menjadi sahabat anak merupakan salah satu bentuk pola pengasuhan (parenting) yang dapat diterapkan orang tua dalam pendidikan keluarga. Semua berawal dari rumah. Pola asuh orang tua dalam keluarga sangat mempengaruhi perkembangan dan kepribadian anak karena orang tua merupakan figur pelindung, pemberi dan pemerhati sekaligus role model bagi anak. Dalam kesehariannya, anak-anak tidak hanya membutuhkan figur orang tua. Anak-anak juga membutuhkan sosok sahabat yang bisa menjadi partner dalam dunianya, sehingga ia merasa senang, ceria dan nyaman dengan diri dan lingkungannya. Sebagai orang terdekat anak, orang tua harus bisa berperan, memposisikan diri sebagai sahabat bagi anak. Mengapa demikian?

Setiap manusia, tidak terkecuali anak-anak membutuhkan sahabat dalam hidupnya. Bahkan anak-anak autis diindikasi lebih responsif terhadap orang yang bersikap sebagai seorang sahabat. Sahabat merupakan kebutuhan sekaligus keinginan setiap manusia karena secara alami dan naluriah, manusia membutuhkan orang lain untuk saling memberi, saling mengerti, saling berbagi, saling mengisi dan melengkapi. Dalam persahabatan ada kepercayaan, kebersamaan, kepedulian dan kedekatan hubungan, tanpa mengesampingkan pemahaman dan penerimaan atas kelebihan dan kekurangan sahabatnya. Ibarat matahari, sahabat merupakan energi yang bisa membangkitkan gairah dan semangat anak dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Pengertian dan arti sahabat bagi anak-anak tentu tidak sedalam pemahaman orang dewasa, tetapi ada kesamaan pandangan dasar mengenai kebutuhan akan sahabat tersebut. Kenyataannya, anak-anak seringkali lebih jujur dan natural dalam mengartikan sahabat. Mereka membutuhkan sahabat untuk menemaninya bermain, berinteraksi dan berbagi cerita tentang pengalaman sehari-hari, seperti tontonan yang disukai, kehebatan mainan, bahkan menyatakan gagasan, imajinasi, rasa suka atau tidak suka dengan apa adanya. Sahabat bisa membuat anak lebih terbuka karena posisi mereka sejajar, bisa saling mengisi, lebih betah dan asyik sekalipun sering diselingi pertengkaran. Karena itu, sahabat penting untuk anak karena sahabat membuat mereka belajar dan merasa senang.

Cara menjadi sahabat anak


Dengan memahami hal tersebut, orang tua bisa menempatkan diri sebagai mitra sejajar, partner dan sahabat anak untuk lebih mendekatkan diri dan lebih memahami keinginan dan kebutuhan si kecil. Bagaimana cara efektif menjadi sahabat anak?

  • Pertama, jadilah pendengar yang baik dan aktif untuk anak, sehingga ia merasa dihargai dan dicintai. Sahabat yang baik selalu menyiapkan telinganya untuk mendengarkan sahabatnya. Berikan respon yang positif dan logis ketika anak bercerita atau curhat karena kitalah sahabat terbaik mereka. Ajukan pertanyaan-pertanyaan seputar ceritanya, tetapi jangan sampai membuat privasinya merasa terusik dan terganggu. Berikan anjuran atau pendapat yang bisa ia mengerti sebagai anak-anak, tetapi jangan menekankan keharusan yang bernada perintah atau larangan agar ia tidak merasa didikte, serta mau dan mampu berinisiatif  juga kreatif.

  • Kedua, libatkan diri kita dalam kegiatan dan dunia anak. Seorang sahabat akan berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai sahabatnya. Sebagai sahabat, orang tua harus mampu menyelami dunia si kecil. Temani dan dampingi anak ketika bermain, pahami kebiasaan-kebiasaan yang ia lakukan saat bermain atau menonton, perhatikan kreativitasnya terhadap mainan dan ajaklah berbicara secara aktif agar kecerdasannya terstimulasi secara efektif. Hal ini memang tidak perlu dilakukan setiap saat, tetapi di saat kita bisa, manfaatkan quality time tersebut untuk lebih dekat dengan si kecil. Dengan melakukan ini, orang tua dapat memahami kelebihan dan kekurangan anak, serta tidak selalu memaksakan kehendak terhadap anak.

  • Ketiga, berikan pujian dan teguran secara jujur, tulus, proporsional dan rasional. Ketika anak berbuat salah, tegur ia dengan sikap tidak menghakimi. Jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Hal ini  akan berdampak negatif terhadap perkembangan kepribadiannya. Berikan pujian untuk setiap keberhasilan yang diraihnya agar ia merasa dihargai dan termotivasi, tetapi jangan berlebihan. Sahabat yang baik akan bersikap jujur, tidak hanya menyenangkan hati sahabatnya, tetapi juga berani menyatakan dan membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan sahabatnya. Sebagai sahabat dan orang terdekat, orang tua memiliki arti khusus bagi anak. Apapun yang disampaikan pasti akan mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Karena itu, sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur, tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.

  • Keempat, berikan kepercayaan terhadap anak. Dalam persahabatan ada kepercayaan dan penghargaan atas kemampuan sahabatnya. Sesekali biarkan anak mencoba sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya asal tidak membahayakannya, seperti mandi dan makan sendiri atau mencoba permainan baru. Cara ini dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Dengan penghargaan dan kepercayaan, kemampuan kreatifnya pun akan lebih berkembang.


Manfaat menjadi sahabat anak


Keragaman pengalaman orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak akan semakin memperkaya metode parenting, serta cara yang dilakukan untuk menjadi sahabat bagi anak, termasuk cara-cara di atas. Namun, dari semua itu kita dapat mengambil hikmah dan manfaat yang besar bagi proses tumbuh kembang anak. Apa saja manfaatnya?

  • Orang tua semakin memahami sifat dan watak anak, kekurangan dan kelebihan anak, serta kebiasaan baik dan buruk anak, sehingga bisa mengoptimalkan potensi kecerdasannya juga minat dan bakatnya, serta dapat menerima dan memperbaiki kekurangan anaknya.

  • Menjalin komunikasi yang lancar dan harmonis antara orang tua dan anak. Komunikasi yang lancar akan memudahkan orang tua dalam menerapkan pola dan metode pengasuhan dalam pendidikan keluarga. Komunikasi merupakan jalan untuk menumbuhkan pengertian dan kepercayaan, sehingga hubungan orang tua anak lebih terbuka dan harmonis.

  • Mendapatkan kepercayaan dari anak. Kepercayaan ini sangat berarti hingga ia besar nanti. Saat ia menghadapi masalah ia akan menjadikan orang tua sebagai tempat curhat dan berbagi beban.

  • Mempererat hubungan dan memperkuat ikatan batin. Pemahaman, pengertian kepercayaan dan jalinan komunikasi yang lancar merupakan modal utama kekuatan sebuah hubungan, termasuk hubungan orang tua dan anak.


Sahabat adalah tangan yang siap memberi, telinga yang  siap mendengar dan hati yang siap mengerti. Ketika kita mampu memaknai anak sebagai anugerah dan amanah, maka kehadirannya membuat hidup kita menjadi indah. Bersahabatlah dengan anak agar kita bisa memasuki dan memahami dunianya. Semoga bermanfaat. (Nia Hidayati)

Arti Privasi buat Anak

Semua orang, tak terkecuali anak-anak sangat memerlukan privasi. Bagi anak, privasi berarti ruang dan waktu untuk melakukan suatu aktivitas tanpa diawasi orang tua atau keluarga. Ada kalanya anak-anak memerlukan ruang dan waktu untuk mengenali dan memahami dirinya, serta mencurahkan pengalaman perasaannya dengan menyendiri. Misalnya ketika ia merasa kesal, marah atau sedih, ia menangis dan mengunci pintu kamarnya.

Sebuah hal yang wajar jika orang tua ingin mengetahui dan mengawasi setiap kegiatan anak. Akan tetapi, hal ini bisa membuat si kecil merasa terkungkung kebebasannya. Privasi merupakan bagian dari kebutuhannya akan kebebasan pribadinya dalam sebuah ikatan keluarga. Karena itu, dengan memberikan dan menghargai privasi anak, orang tua telah memberikan pengertian, serta kesempatan bagi anak untuk belajar memahami dan berdialog dengan dirinya sendiri.

Menurut Frank Furedi, penulis buku Paranoid Parenting, hal itu sangat wajar. “Anak juga terkadang ingin menyendiri, saat mereka merasa tidak nyaman dengan lingkungannya. Mereka akan masuk ke kamar lalu mengunci pintu. Sebaiknya Anda jangan marah. Anda harus mengerti itu dan memberinya sedikit waktu hingga emosinya mereda,” ujarnya. Hal ini, tentu saja harus disertai bimbingan dan perhatian. Membiarkannya sendiri dalam waktu tertentu bukan berarti melepas kepedulian dan tanggung jawab sebagai orang tua, tetapi lebih kepada memberikan kesempatan untuk berdamai dengan pribadinya, menyalurkan dan meredakan emosinya. Setelah itu, sewajibnyalah orang tua untuk mengajaknya sharing, bertanya dengan bijak, memberikan pemahaman akan pentingnya berbagi masalah, memberikan pengertian untuk mengungkapkan keinginan dan tidak perlu bersembunyi jika menginginkan privasi, serta memberikan gambaran solusi sesuai porsi logika anak-anak.

Lalu apa sebenarnya arti privasi buat anak?

Seperti halnya orang dewasa, anak memiliki keinginan, kepentingan juga masalah yang tidak ingin diketahui dan dicampuri orang lain, termasuk orang tuanya, keluarganya atau sahabatnya sebagai orang-orang terdekatnya. Dalam diri setiap anak keinginan untuk bisa sendiri, belajar mengenali potensi dan kekuatannya sendiri untuk menghadapi sesuatu. Dengan memberinya privasi berarti ia merasa dihargai, dimengerti dan dipercayai oleh orang tuanya. Hal ini akan menumbuhkan rasa nyaman yang akan berdampak positif dalam komunikasi antara anak dengan orang tuanya. Pengawasan dan pertanyaan yang terlalu memaksakan hanya akan membuatnya merasa tidak dipercaya, sehingga ia malas berkomunikasi dengan orang tuanya.

Seiring perkembangannya, pengertian, kepercayaan dan penghargaan akan privasi tersebut memiliki manfaat dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri anak atas apa yang dilakukannya. Anak juga akan belajar menghadapi masalah dengan mengoptimalkan kemampuannya sebelum meminta bantuan terhadap orang tuanya, dan yang paling penting, jalinan komunikasi orang tua dengan anak akan lebih nyaman, serta intensif sebagai sebuah keluarga. Semoga (Nia Hidayati)

Arti Angka 7 Keajaiban untuk Anak

Angka 7 sering kali dianggap memiliki keajaiban khusus berkaitan dengan unsur-unsur kehidupan alam dan manusia, termasuk keajaiban untuk anak. Surat pertama dalam Al-Qur’an juga terdiri dari 7 ayat, langit yang menaungi kita terdiri dari 7 lapis, selama 1 minggu kita menelusuri kehidupan dalam 7 hari. Kita juga sering mendengar istilah 7 keajaiban dunia, 7 turunan, kembang 7 rupa hingga pusing 7 keliling. Apa sebenarnya arti angka 7 dalam kehidupan kita? Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas arti dan keajaiban angka 7 secara rinci dan menyeluruh, tetapi akan sedikit berbagi mengenai arti angka 7 berkaitan dengan keajaiban tumbuhkembangnya anak, serta pola asuh dan pendidikan yang diterapkan orang tua. Hal ini dapat kita jadikan dasar pemahaman mengenai siklus kompetensi dan pertumbuhan anak.

Menurut Bobbi De Porter, penulis Quantum Learning yang juga President Learning Forum Supercamp Oceanside California USA, pendidikan seorang manusia harus didesain dengan rumus ajaib 7 x 3, yaitu:

* 7 tahun pertama, biarkan anak bebas bermain dan tidak boleh ada hukuman.

* 7 tahun kedua, kenalkan anak mengenai baik dan buruk, serta hukumlah anak apabila melakukan hal-hal yang buruk.

* 7 tahun ketiga, berikan anak alternatif-alternatif dan biarkan mereka memilih.

Bobbi De Porter menemukan “rumus” tersebut pada tahun 1999. Akan tetapi, ternyata penemuannya itu bukan merupakan ide orisinilnya. Bobbi mengutip “rumus” tersebut dari ”pendapat” Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa ”Biarlah anak-anak kalian bermain dalam 7 tahun pertama, kemudian didik dan bimbinglah mereka dalam 7 tahun kedua, sedangkan 7 tahun ketiga jadikanlah mereka senantiasa bersama kalian dalam musyawarah dan menjalankan tugas.

Bila dicermati dan direnungi, rumus 7 x 3 Bobbi yang bersumber dari Rasulullah SAW tersebut dapat kita petakan sebagai berikut :

* 7 tahun pertama merupakan masa emas anak, ia adalah raja yang harus diperhatikan segala kebutuhan dan keinginannya

* 7 tahun kedua merupakan masa menaati bagi anak, ia adalah pembantu yang harus taat dalam menjalankan perintah dan aturan

* 7 tahun ketiga merupakan masa kerja bagi anak, ia adalah pelaku kehidupan yang mulai menjadi menteri, bertanggung jawab terhadap tugas dan perannya.

Pemetaan tersebut memberikan gambaran mengenai pola pendidikan yang seharusnya dikembangkan orang tua sebagai insan yang dititipi amanah Allah SWT. Orang tua berhak untuk memiliki harapan terhadap anak-anaknya dan berkewajiban mendidiknya. Keinginan dan harapan (ekspektasi) orang tua terhadapa anak-anaknya harus diimbangi dengan kemampuan memberi dan memahami kebutuhan juga fungsi anak itu sendiri dalam kehidupan keluarga. Dalam hal ini, harapan umumnya orang tua terhadap anaknya tidak lepas dari faktor “keunggulan” dan “benefiditas” (kebermanfaatan) dari segi kecerdasan otak, kesehatan fisik dan mental maupun kemuliaan akhlak, baik bagi dirinya, orang tuanya, agamanya maupun bangsanya.

Realisasi dari ekspektasi tersebut bisa diaplikasikan dalam bentuk pola asuh dan cara mendidik yang bermacam-macam, sehingga tingkat keberhasilannya pun menjadi variatif. Oleh karena itu, rumus 7 x 3 ini dapat dijadikan dasar pemahaman mengenai pentingnya menerpakan pola pendidikan yang seimbang dan sinambung antara optimasi otak, pembinaan mental spiritual dan pembinaan moral melalui akhlak mulia sebagai bekal anak dalam tiap tahap kehidupannya, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW dalam hadits-haditsnya.

Lalu, apa arti angka 7 yang sebenarnya dalam rumus 7 x 3 ini bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya agar sesuai dengan harapannya?

Arti yang utama menunjukkan bahwa keberhasilan mendidik anak tidak diperoleh tanpa upaya atau perjuangan. Jika kita ingin berhasil dalam 7 tahun ketiga, maka memaksimalkan upaya di tahun kedua adalah harus, dan mengoptimalkan 7 tahun pertama anak adalah syarat mutlak. Keberhasilan di 7 tahun pertama dan kedua merupakan modal dasar keberhasilan di 7 tahun ketiga. Jika 7 tahun pertama dilalui orangtua dengan cara yang salah, maka di 7 tahun kedua, orang tua akan mengalami banyak hambatan dalam berkomunikasi dengan anaknya, dan di 7 tahun ketiga, anak tumbuh menjadi pribadi yang kehilangan esensi dan inti energi kehidupan, yaitu hati, kepercayaan dan moral.

Coba kita renungi berbagai peristiwa yang menggambarkan pentingnya ketepatan pola asuh dan pendidikan dalam keluarga. Jika kita mau belajar dari pengalaman, banyak orang tua yang salah melakukan pendekatan, sehingga hubungan orang tua-anak tidak harmonis dan ketika si anak dewasa ia “jauh” dari orang tuanya. Di sisi lain, saat itu orang tua justru “membutuhkan” perhatian dan kasih sayang anak-anaknya. Karena adanya “jurang” akibat pendekatan dan komunikasi yang tidak jernih, anak bisa “mengabaikan” bahkan “melupakan” orang tuanya. Naudzubillah min dzalik.

Lalu bagaimana bentuk pendekatan dan cara efektif yang seharusnya dilakukan orang tua dalam setiap tahapan 7 tahun tersebut? (Insya Allah, mengenai ini saya share di tulisan berikutnya). Yang dapat kita renungkan dari angka 7 ini ialah bahwa angka 7 jika dikalikan 3 memiliki arti yang signifikan bagi kehidupan anak dalam sebuah keluarga. Ada makna keajaiban untuk anak berkaitan dengan cara mendidik anak, serta harapan orang tua akan kebermanfaatan atau kebergunaan anak-anaknya dalam hidupnya. Ada pembelajaran mengenai pentingnya kecerdasan secara menyeluruh, baik intelektual, emosional maupun spiritual, sehingga anak-anak tumbuh pintar, bermoral dan berakhlak karimah. Semoga bermanfaat. (Nia Hidayati)

Pertumbuhan Bayi Hingga 1 Tahun

Anda tentunya ingin tahu pertumbuhan bayi anda dari bulan ke bulan bukan? berikut informasi mengenai pola pertumbuhan bayi anda dari bulan ke bulan sampai dengan umur 1 tahun.
Umur 0-1 bulan : - Tidur sepanjang hari
- Bereaksi terhadap suara
(my baby waktu itu sangat peka sama bunyinya kresek-kresek plastik. Walau lagi tidur, kalau denger bunyi plastik ataupun orang batuk, suka langsung menangis dari tidurnya atau sekedar kaget dari tidurnya)

Umur 1-2 bulan : - Lebih sering terjaga
- Mulai dapat mendesis
- Mulai dapat melihat sekeliling
- Mulai biasakan bayi dengan udara luar rumah

Umur 2-3 bulan : - Bila dibawa keluar rumah bayi menggerak-gerakan mata, mulai dapat mengedipkan mata
- Ada yang mulai dapat mengangkat badannya bila ditidurkan tengkurap

Umur 3-4 bulan : - Tertawa bila diajak bicara
- Mulai mengisap jari-jarinya
- Mulai dapat mengangkat kepala sedikit tinggi

Umur 4-5 bulan : - Mulai dapat memegang
- Mulai dapat mengenal orang, terutama ibunya
- Mulai dapat tengkurap
- Bila bayi terus mengisap jari, berikan dot yang bersih
(my baby dah mulai ekspansi kasur, berguling-guling ke segala arah, kadang berguling, geser ke atas, kadang juga nangis karena pas mau berguling, tangan satunya masih di bawah badannya dan ga bisa diangkat, nangislah ci bebi ... he...he...)


Umur 5-6 bulan : - Berusaha memasukan benda ke dalam mulut
- Melonjak-lonjak bila digendong atau dipangku
- Dapat merubah posisi tidur
(apa aja yang deket dengannya suka dimasukkan ke mulut. Kain, mainan, tangan pokonya apa aja, dan gigitannya lumayan keras. Eh di awal 6 bulan ternyata giginya dah mulai kerasa dan keliatan, kecil mungil lucuuu ...)

Umur 6-7 bulan : - Mulai dapat duduk sendiri sejenak
- Dapat memindahkan mainan dari tangan yang satu ke tangan yang lainnya
(saat ini my baby masih berusia 5 bulan lebih. Duduk dah mau tapi ga lama, kalo pegang masih gerakan kasar)

Umur 7-8 bulan : - MUlai tumbuh gigi
- Bereaksi bila namanya dipanggil
- Mulai dapat memegang mainan dengan kedua tangan

// <![CDATA[//
Umur 8-9 bulan : - Ada yang sudah bisa merangkak
- Mulai dapat mengerti belaian orang

Umur 9-10 bulan : _ Dapat merangkak lebih mantap dan kuat
- Ada yang mulai dapat berdiri dengan pegangan tangan
- Suka memegang sendiri makanannya

Umur 10-11 bulan: - Dapat berdiri tegak dengan pegangan
- Ada yang mulai dapat berjalan dengan pegangan
- Mulai dapat mengucapkan satu atau dua kata seperti mama, papa

Umur 11-12 bulan: - Suka udara luar rumah
- Ada yang dapat mengucap kalimat pendek
- Mulai dapat meniru gerak-gerik orang dewasa

Tips Mudah Meningkatkan Produksi ASI

1. Hindari Penggunaan Dot atau Empeng. Seringkali para ibu memberikan ASI poma atau susu formula dengan menggunakan dot atau memakaikan empeng kepada si kecil agar tidak rewel. Tanpa disadari hal ini justru membuat anak Anda jadi malas menyusui langsung dari payudara. Hal ini dikarenakan si kecil sudah terbiasa minum susu dari dot yang hanya menggunakan sedikit usaha : sedikit tekan, susu langsung keluar. Sedangkan pada payudara, ASI baru bisa keluar jika menyusui si kecil di seluruh areola yaitu bagian gelap di sekitar puting payudara. Sehingga bayi yang terbiasa dengan dot kesulitan ketika hanya menyedot dari puting yang mirip dengan dot. Maka akibatnya si kecil malas untuk menyusui dari payudara Anda lagi.

2. Sebisa Mungkin Hindari Susu Formula. Banyak ibu yang memberikan susu formula pada bayi karena menganggap ASI yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan susu si kecil. Padahal dengan memberikan susu formula, justru ASI Anda juga semakin sedikit. Kandungan susu formula sudah semakin bagus sehingga bayi Anda telah kekenyangan ketika Anda ingin memeberikan ASI. Anda menjadi jarang memberikan ASI atau jumlah ASI yang diberikan menjadi semakin sedikit. Makin jarang Anda menyusui, makin sedikit ASI yang diproduksi tubuh. Maka tidak heran kalau tiba-tiba ASI Anda kering.

3. Makin Banyak ASI Dikeluarkan Maka Makin Banyak ASI diproduksi. Kadang ASI Anda banyak tapi si bayi sudah kenyang atau tertidur. Dalam hal ini, coba untuk memompa ASI Anda sampai habis karena maskin sering dikeluarkan maka makin banyak ASI yang diproduksi oleh tubuh Anda.

4. Perbanyak Konsumsi Makanan Bergizi. Apa yang Anda makan juga terkandung dalam ASI yang Anda berikan. Jadi makanlah makanan yang bergizi sehingga ASI Anda semakin berkualitas. Jika Anda takut gemuk, Anda jangan khawatir. Seiring pertumbuhan si kecil, tubuh Anda pun menyesuaikan sendiri dengan banyaknya kegiatan yang Anda lakukan.

5. Pemijatan Payudara. Lakukan pemijatan payudara (massage) di sekitas payudara, kemudian kompres payudara dengan air hangat dan air dingin secara bergantian. Ini berguna untuk merangsang otot dan hormon di sekitar payudara sehingga ASI yang keluar dari payudara Anda semakin banyak.

6. Selalu Rileks. Suatu penelitian menyebutkan, lebih dari 80% penyebab ibu tidak berhasil memberika ASI eksklusif dikarenakan si ibu banyak pikiran. Santaikan pikiran Anda dan buang jauh-jauh pikiran yang membuat stres. Jika banyak pikiran, sensor pada otak Anda secara tidak langsung akan memerintahkan hormon yang menghasilkan ASI untuk bekerja lebih lambat.

7. Peran Suami Sangat Diperlukan. Poin ini berhubungan dengan relaksasi. Suami sangat berperan untuk menyemangati istri. Hal kecil ini terkadang sangat berpengaruh. Misalnya ketika bayi menangis, suami menggendong terlebih dahulu ketika Anda sedang bersiap-siap menyusui. Perhatian seperti ini membuat Anda tidak merasa sendirian membesarkan si buah hati.

8. Konsumsi Buah dan Sayuran. Banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayuran segar bisa meningkatkan jumlah ASI. Utamakan kacang hijau. Cobalah banyak mengonsumsi kacang hijau sehari 3 gelas. Hal ini mampu memicu produksi ASI. Para orang tua jaman dulu, seringkali merebus kacang hijau hingga lunak, kemudian menambahkan sedikit jahe serta gula merah, sebagai minuman sehari-hari bagi ibu yang tengah menyusui.

9. Konsultasikan Pada Dokter. Jika segala cara telah dicoba namun tetap saja ASI yang Anda keluarkan tidak banyak, cobalah berkonsultasi pada dokter. Ajaklah pula suami Anda karena ia juga bisa mengerti apa yang Anda butuhkan.

AKIKAH: Kurban atas Anak yang Baru Lahir

Oleh: Muhammad ESA


Arti Leksikal Akikah

Akikah (Ar.: ‘aqiqah [akar kata ‘aqqa] = membelah dan memotong). Menurut istilah syar’i (yang berdasarkan syarak) adalah binatang yang disembelih sebagai kurban atas anak yang baru lahir.

Hukum Akikah

Fukaha (ahli fikih) mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentang hukum akikah sebagai berikut :.

1.      Segolongan fukaha, di antaranya para pengikut Daud az-Zahiri, Imam Hasan al-Basri, dan Imam Lais bin Sa’ad, berpendapat bahwa akikah adalah wajib.

2.      Jumhur (mayoritas) ulama seperti Imam Malik, ulama Madinah, Imam Syafi’I serta para pengikutnya, imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), Ishaq, Abu Saur, dan segolongan besar ahli fikih dan mujtahid (ahli ijtihad) lainnya berpendapat bahwa hukum akikah adalah sunah.

3.      Para fukaha pengikut Abu Hanifah (Imam Hanafi) berpendapat bahwa akikah tidak wajib dan tidak pula sunah, melainkan termasuk ibadah tatawwu’ (sukarela).

Dasar Hukum Akikah

Perbedaan pendapat tersebut muncul disebabkan adanya perbedaan pemahaman terhadap hadis-hadis yang berkenaan dengan masalah ini sebagai berikut

  1. “Setiap anak tergadai dengan akikahnya. (Binatang) itu disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dan pada hari itu juga kotoran dibersihkan darinya” (HR. at-Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

  2. “Aku tidak suka sembelihan-sembelihan (akikah). Akan tetapi, barangsiapa dianugerahi seorang anak, lalu dia hendak menyembelih hewan untuk anaknya itu, dia dipersilakan melakukannya” (HR. al-Baihaki).


Hewan Akikah

Dalam masalah hewan yang digunakan untuk akikah terdapat perbedaan pendapat diantara para fukaha sebagai berikut :

  1. Jumhur fukaha berpendapat bahwa hewan yang boleh dipakai untuk akikah hanyalah hewan yang bisa disembelih untuk kurban yang terdiri atas delapan macam (empat pasang) binatang.

  2. Imam Malik lebih suka memilih domba (da’n) sesuai dengan pendapatnya tentang hewan kurban.

  3. Fukaha lain berpegang pada prinsip bahwa unta lebih utama daripada sapi dan sapi lebih utama daripada domba.


Dasar Hukum Hewan Akikah

Perbedaan pendapat tersebut disebabkan karena adanya pertentangan antara hadis-hadis mengenai akikah dan kias sebagai berikut :

  1. “Rasulullah saw menyembelih (akikah) untuk Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi saw, masing-masing satu kambing” (HR. Ibnu Abbas ra).

  2. “Akikah anak perempuan adalah satu kambing, sedangkan untuk akikah anak laki-laki adalah dua kambing” (HR. Abu Dawud).

  3. Menurut kias, karena akikah adalah suatu ibadah yang berupa penyembelihan binatang, seharusnya diutamakan hewan yang lebih besar karena dipersamakan dengan penyembelihan hewan al-hadyu (kurban).


Tentang umur dan sifat hewan akikah, para fukaha sepakat, sama dengan umur dan kondisi hewan kurban, yakni harus bersih dari cacat.

Usia Orang Yang Diakikahi

Perbedaan pendapat tentang usia orang yang akan diakikahi sebagai berikut :

  1. Jumhur fukaha berpendapat bahwa yang diakikahi adalah anak laki-laki dan  anak perempuan yang masih kecil. Pendapat ini disandarkan atas keterangan hadis bahwa akikah dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran anak.

  2. Sebagian fukaha bahkan berpendapat  membolehkan akikah untuk orang dewasa. Pendapatnya disandarkan pada sebuah riwayat dari Anas bin Malik bahwa Nabi saw mengakikahi dirinya sesudah diutus sebagai Nabi.


Jumlah Hewan Akikah

Dalam menentukan jumlah hewan akikah terdapat pula perbedaan pendapat dari para fukaha sebagai berikut :

  1. Imam Malik, berpendapat cukup satu ekor kambing, baik untuk anak laki-laki maupun untuk anak perempuan.

  2. Imam Syafi’I, Abu Saur Ibrahim bin Khalid Yamani al-Kalbi, Abu Dawud, dan Ahmad, berpendapat untuk anak perempuan adalah satu ekor kambing dan untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing.


Waktu Penyembelihan

Untuk waktu penyembelihan hewan akikah menurut pendapat fukaha sebagai berikut:

  1. Jumhur fukaha berpendapat harus dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran anak.

  2. Sebagian fukaha malah membolehkan penyembelihan dilaksanakan pada pekan kedua atau pekan ketiga dari kelahiran anak.

  3. Tetapi bagi fukaha yang membolehkan akikah untuk orang dewasa, maka penyembelihan itu tentunya boleh dilakukan pada usia dewasa.


Hukum daging akikah serta bagian-bagian lainnya sama dengan hukum daging kurban dalam hal makan, sedekah, dan larangan menjualbelikannya.

Dalam masyarakat Islam, tradisi upacara akikah biasanya dihubungkan dengan upacara pencukuran rambut dan penamaan anak. Hal tersebut didasarkan pada hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh at-Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Hasan dari Samurah yang artinya: “ Setiap anak tergadai dengan akikahnya. Pada hari ketujuh ia disembelihkan akikah itu, rambutnya dicukur, dan diberi nama.” Upacara tersebut merupakan reaksi Islam terhadap tradiri Jahiliah. Sebelum Islam datang, setiap kepala anak yang baru lahir biasa dinodai dengan darah binatang sembelihan, kemudian kebiasaan ini dibatalkan oleh Islam dan diganti dengan akikah.

Hikmah-hikmah Akikah

  • Merupakan kurban yang mendekatkan anak kepada Allah swt sejak masa awal menghirup udara kehidupan.

  • Merupakan tebusan bagi anak untuk memberikan syafaat pada hari akhir kepada kedua orang tuanya.

  • Mengokohkan tali persaudaraan dan kecintaan di antara warga masyarakat dengan berkumpul di satu tempat dalam menyembut kehadiran anak yang baru lahir.

  • Merupakan sarana yang dapat merealisasikan prinsip-prinsip keadilan sosial dan menghapuskan gejala kemiskinan di dalam masyarakat, misalnya dengan adanya daging yang dikirim kepada fakir miskin.

Cool Blue Outer Glow Pointer