Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Tuesday, March 22, 2011

KISAH BENAR ZAMAN RASULULLAH S.A.W

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong,
dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya. Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah S.A.W mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah S.A.W menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah S..A.W, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah S.A.W yakni Abubakar R.A berkunjung ke rumah anaknya Aisyah R.A yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah S.A.W dan beliau bertanya kepada anaknya itu, Anakku, adakah kebiasaan
kekasihku yang belum aku kerjakan? Aisyah R.A menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja. Apakah Itu?, tanya Abubakar R.A. Setiap pagi Rasulullah S.A.W selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah R.A. Keesokan harinya Abubakar R.A pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar R.A mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar R.A mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah S.A.W. Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar R.A, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar R.A saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim..

Amr bin ‘As


 
Amr bin As adalah sahabat Rasulullah yang besar, utusan kepada raja-raja dan salah seorang Jenderal kaum Muslimin. Pada masa Jahiliyah beliau menjadi saudagar yang kaya raya mempunyai hubungan dagang dengan negeri Syam, Yaman, Habsyah dan Mesir.

Pernah menjadi wakil Quraisy kepada raja Najasyi untuk menyuruh pulang orang-orang Islam yang hijrah ke Habsyah dan pernah pula bertempur melawan Rasulullah pada setiap peperangan sebelum beliau memeluk Islam. Setelah rasa keinsyafan merasuk ke dalam sanubari beliau, berangkatlah beliau bersama Khalid bin Walid ke Madinah akan memeluk Islam. Rasulullah menyambut kedatangan sahabat baru itu dengan sangat gembira serta memaafkan permusuhan mereka yang lama terhadap Nabi dan Agama Islam.

PEPERANGAN-PEPERANGAN BELIAU
Beliau ikut bersam-sama dengan Nabi dalam beberapa peperangan, dan hadir pula dalam menaklukkan Makkah, pun pernah pula menjadi utusan kepada raja-raja, dan jenderal dalam pelbagai peperangan. Dalam membasmi kaum Murtad beliau memegang pimpinan tentara yang dikirim kepada Quda’ah dan dapat mengalahkan kaum murtad, sehingga mereka kembali masuk Islam. Dalam peperangan Jarmuk   beliau menjadi pembantu yang kuat oleh Khalid dan Abu Ubaidah.
Usaha dan pimpinan beliau waktu menaklukkan Palestine dan memburu Artabun jenderal Rum sangat berhasil. Dalam seluruh gelanggang perang seperti di Alparma, Bilbis, tampak ketangkasan Amr. Hingga Mesir dan Iskandariah jatuh ke tangan kaum Muslimin pada tahun 20 H. Semua karena dinginnya tangan ‘Amr.

MEMERINTAH MESIR
Kendali pemerintahan Mesir diserahkan Umar bin Khattab kepada beliau. Saat itu mashurlah beliau sebagai hakim yang adil lagi dicintai rakyat.
Beliau pentingkan benar urusan pertanian, irigasi (pengairan) dan membentangkan jembatan-jembatan.
Untuk ibukota, beliau bangunkan kota Fustat, bersama mesjidnya yang terkenal dengan Mesjid Amr. Dan dengan mesjidnya yang itulah mesjid yang pertama di Mesir.
Kemudian Usman bin Affan memecatnya dari pemerintah Mesir dan diganti dengan karib beliau, tetapi Muawiah mengembalikannya ke sana pada masa Khalifahnya, berhubung dengan jasa beliau yang banyak terhadap Muawiah.
Beliau meninggal dunia di Mesir pada masa pemerintahan Muawiah yaitu pada tahun 42 H. dalam usia 70 tahun dan dimakamkan di kaki bukit Muqattam dekat kota Cairo.

DERITA GAZA PALESTINA

Anak Palestina 
Menderita, memprihatinkan, memilikan dan menyedihkan. itulah gambaran anak-anak kecil yang hidup di jalur Gaza Palestina setelah PBB menghentikan distribusi bantuan makanan bagi rakyat Palestina dengan alasan kekurangan bahan bakar. banyak rakyat Palestina yang kelaparan dan bahkan baru-baru ini dikabarkan bahwa beberapa keluarga harus bertahan hidup dengan mengkonsumsi rumput yang berada di sekitar mereka.
UNRWA, sebuah badan PBB yang menangani distribusi makanan untuk rakyat Palestina tidak dapat berbuat banyak ketika kendaraan mereka yang mengangkut kebtuhan pangan rakyat kehabisan bahan bakar. Akibatnya, lebih dari 80% penduduk Gaza mengalami kesulitan mendapatan bahan makana   yang sebagian adalah anak-anak di bawah umur. Cris Gunness, juru bicara UNRWA, mengatakan bahwa bantuan kepada 650.000 orang harus dihentikan untuk sementara waktu.
Bantuan dari negara-negara Arab yang mayoritas beragama Islam sampai saat ini tidak terdengar. Mesir justru menutup perbatasannya. Tindakan ini dapat menghambat penyaluran bantuan untuk rakyat palestina. lebih menyedihkan lagi, ada orang arab yang beragama islam akan membeli pemain sepak bola asal Spanyol bernama Fernando Torres atau lebih dikenal dengan nama El-Nino dengan tawaran yang fantastis yaitu Rp. 2,2 Trilyun! sebuah Nilai yang sangat menyakitkan untuk rakyat Palestina yang sedang menderita.
SEMOGA SEMUA MUSLIM DI PALESTINA DIBERIKAN KESABARAN YANG LEBIH DAN TETAP BERSEMANGAT UNTUK TETAP BERJUANG DI JALAN ALLOH, SAYA DI SINI,  TIDAK DAPAT MEMBATU SECARA LANGSUNG SAUDARAKU MUSLIM PALESTINA.. SAYA HANYA BISA  BERDO’A DENGAN IKHLAS UNTUKMU PALESTINA. INSYA ALLOH BAGI PEJUANG MUSLIM PALESTINA YANG TELAH SYAHID, ALLOH TELAH SIAPKAN SYURGA YANG INDAH.
SEMOGA ALLOH MENGUTUK DI DUNIA SERTA AKHIRAT, BAGI ORANG-ORANG YANG BEKERJASAMA SECARA LANGSUNG ATAUPUN TIDAK LANGSUNG UNTUK MENGHACURKAN PALESTINA… MIIN YAAA ALLOH YA ROBBAL ALAMIIN

Saturday, March 12, 2011

Profesor Termuda AS Ternyata Orang Asli Indonesia



Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia . Kenapa?

Nelson Tansu lahir di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia .

Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk “pulang”. Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia . Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika , ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia . Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.

Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia . Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional?

Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore , gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia . Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia . Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk “cari makan”.

Thursday, January 27, 2011

MUHAMMAD ALEXANDER PERTZ, KISAH BOCAH AMERIKA MENEMUKAN ISLAM DALAM BUKU

Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Kristen pada tahun 1990. Sejak
awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari
pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis, maka
ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama
langit atau agama bumi. Setelah membaca buku-buku secara mendalam, Alexander
memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim
seorangpun.

Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari
sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar'i, membaca sejarah Islam,
mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar
azan. Semua itu ia lakukan tanpa bertemu dengan seorang muslim pun. Berdasarkan
bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Muhammad
Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah SAW yang dia
cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut.
Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut balik
bertanya kepada wartawan itu, "Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran?"
Wartawan itu berkata: "Tidak." Namun, sang wartawan dapat merasakan kekecewaan
anak itu atas jawabannya.
Bocah itu kembali berkata, "Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan
mengerti bahasa Arab, bukankah demikian?" dia menghujani wartawan itu dengan
banyak pertanyaan. "Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji? Apakah engkau
telah menunaikan ’umrah? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram?
Apakah pakaian ihram tersebut mahal? Apakah mungkin aku membelinya di sini,
ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja? Kesulitan apa sajakah yang
engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang
bukan Islami?"

Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan
menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau
gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang
dikenakannya, ghutrah (serban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model
Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan azan sebelum dia
shalat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, "Terkadang aku kehilangan
sebagian shalat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu shalat."

Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, "Apa yang membuatmu tertarik
pada Islam? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja?" dia diam
sesaat kemudian menjawab. Bocah itu diam sesaat, kemudian menjawab, "Aku tidak
tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentang Islam, dan
setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku pada Islam."

Wartawan bertanya kembali, "Apakah engkau telah puasa Ramadhan?" Muhammad
tersenyum sambil menjawab, "Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara
sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di
dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama". Kemudian dia
meneruskan : "Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan
tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut".

"Apa cita-citamu?" tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, "Aku memiliki banyak cita-cita. Aku ingin haji
ke Makkah dan mencium Hajar Aswad".
"Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah
sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut?" tanya wartawan lagi.

Ibu Muhammad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata:
"Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka
bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam
angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui
bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat
dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain".

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad Abdullah, dia melihat ibunya membelanya.
Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar
Kabah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama
manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan
warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, "Aku sudah menabung dengan mengumpulkan sisa dari
uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Aku mendengar bahwa
perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai
300 dollar".

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan
keteledorannya, "Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke
Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam
waktu dekat ini."

"Apakah cita-citamu yang lain?" tanya wartawan kepada sang bocah.
"Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah
bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka," jawab
Muhammad.
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka dia pun memberikan
isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya
sekitar tema ini.
Muhammad berkata, "Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh
benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina."
"Apakah engkau mempunyai cita-cita lain?" tanya wartawan lagi. Muhammad
menjawab, "Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal
Al-Quran."
"Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam?" tanya wartawan
"Tentu!" tukasnya.
"Apakah engkau memiliki kesulitan dalam hal makanan? Bagaimana engkau
menghindari daging babi?"
Muhammad menjawab, "Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku
sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui
bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak
menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku bilang
kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi."

"Apakah engkau shalat di sekolah?"
"Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan. Aku shalat di sana
setiap hari," jawab Muhammad.
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung
berkata kepada wartawan, "Apakah engkau mengizinkanku untuk mengumandangkan
azan?"
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan azan. Dan tanpa terasa, air mata
mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu
menyuarakan azan. Subhanallah!
riafariana/voa-islam.com

Monday, November 8, 2010

DIBALIK SEBUTIR NASI

Assalammua'laikum Warrahmatullahi Wabarrahkatuh,

"Sesungguhnya mubadzir ( pemborosan ) itu saudara-saudara syaithan".
(Isro' / 27)

Sahabat yang dicintai Allah SWT, terfikirkah oleh kita bahwa ketika
sebuah hidangan telah siap di meja dan siap untuk kita nikmati, ada
sekian banyak faktor pendahulu yang mesti menjadi renungan bagi kita
semua agar rasa syukur kita kepada Allah SWT makin terasah dan
berkualitas.

Ada sekian banyak petani yang banting tulang peras keringat untuk
membajak, menanam dan mengairi sawah untuk sepiring nasi dan semangkuk
sayur kita, ada para peternak yang dengan penuh kesabaran memelihara
hewan ternaknya untuk sekerat lauk buat kita, ada sekian banyak kuli
panggul, tukang masak, dan para buruh lainnya yang siap memberikan
pelayanan untuk kepuasan kita. Dan masih banyak faktor lain yang perlu
kita cari dan kita renungkan.

Berikut ini kisah yang akan memicu kita menjadi hamba yang sangat
mensukuri nikmat Allah SWT.

Dikisahkan di sebuah kerajaan kecil,sang raja mempunyai seorang putra
yang sangat di manjakan. Merasa sebagai anak semata wayang sekaligus
putra mahkta kerajaan,dia tumbuh menjadi remaja yang urakan,tidak tahu
sopan santun dan tidak mau menghargai Orang lain.Ia bahkan suka
melecehkan para pengasuhnya. Karena itu,pangeran kecil ini di benci dan
di hindari oleh para pengasuh maupun pegawai istana lainnya.

Walau di benci dan di jauhi,pangeran kecil ini masih punya satu-satunya
sahabat seusia yang setia kepadanya, yaitu si bocah laki-laki anak dari
si juru masak istana. Si bocah tinggal di bangunan kecil jauh di
belakang istana kerajaan. Karena dilarang menginjakkan kakinya ke dalam
istana, maka sang pangeran kecillah yang biasanya datang bermain ke
rumah si bocah.

Suatu hari, pangeran kecil meminta bocah untuk menemaninya makan siang
di ruang makan istana. Bukan menemani makan, tetapi berdiri manis
menunggui sambil melihat sang pangeran makan. Sesaat sebelum makan,
pangeran kecil terlihat menundukkan kepala sambil mulutnya
berkomat-kamit seolah sedang berdoa. Sejenak kemudian, pangeran kecil
mulai melahap hidangan yang tersaji di meja makan. Semua jenis makanan
yang enak, enak dan mahal dicicipi. Sang Pangeran bersantap sambil
bertingkah seperti orang yang sedang kelaparan dan ingin menghabiskan
semua makanan di atas meja. Kadang ia hanya mencuil dan menggigit
makanannya, lalu memuntahkan dan membuang sisanya di meja. Meja makan
jadi berantakan dan sisa-sisa makanan berserakan di mana-mana. Sang
pangeran seperti sedang mengolok-olok sahabatnya yang hanya berdiri
memandanginya.

Tapi bukannya merasa dihina, si bocah kecil itu malah tersenyum-senyum
sedari tadi. Pangeran kecil pun jadi tersinggung dan marah melihat
kelakuan sahabatnya. "Hai... apa yang kamu tertawakan? Beraninya kamu
tertawa seperti itu dihadapanku ? Kamu iri melihat aku makan enak?"
teriak pangeran kecil. " tidak, tidak ada apa-apa...," jawab si bocah.
"kalau tidak ada apa-apa, mengapa kamu tertawa ? Apanya yang lucu ?"
tanya sang pangeran sengit." Pangeran jangan cepat marah. Hamba sungguh
senang dan tidak menyangka sama sekali, bahwa seorang pangeran pun
ternyata juga berdoa sebelum makan. Apa yang pengeran ucapkan dalam doa
tadi?" tanya si bocah.

"Walaupun aku seorang pangeran, aku juga orang beragama. Di agamaku
sejak kecil diajarkan, supaya setiap hendak makan mengucapkan doa
terimakasih kepada yang maha kuasa, atas pemberian makanan yang
dihidangkan untukku," jelas sang pangeran dengan bangga. Si bocah kecil
tetap saja tersenyum-senyum. Tapi kali ini ia berani berkata demikian,"
menurut pendapat hamba yang mulia, rasa syukur dan terimakasih itu akan
lebih berarti bila ditujukan juga kepada orang-orang yang telah
menyediakan semua bahan makanan, dan memasak hingga tersaji hidangan di
meja ini," kata si bocah."Lihatlah sisa makanan yang berceceran di
piring dan meja itu. Perlu berapa orang untuk membuat itu semua?" "apa
maksud kata-katamu itu ? Aku kan seorang pangeran yang boleh berbuat apa
saja sesuai kehendakku..." kilah sang pangeran .

Tanpa banyak mendebat si bocah tadi mengajak Sang Pangeran menuju ke
dapur istana untuk melihat para pekerja dapur yang begitu sibuk
menyiapakan makanan serta membuat berbagai macam masakan. Saat mereka
berkeliling, dari pintu belakan istana tampak seorang petani sedang
membawa sekarung beras sebagai hantaran wajib ke istana. Pangeran kecil
menyapa si petani bak seorang raja yang berkuasa,"hai...paman...terima
kasih atas persembahanmu, bagaimana panen padi kali ini?" tanya sang
pangeran berlagak bijak."panen kali ini buruk sekali,Tuan,"jawab si
petani ketakutan."sudah tiga bulan kami bekerja keras, dari membajak,
menanam, mengairi sawah sampai memupuk tanaman, tapi hasilnya sia-sia .
Sawah ladang dihancurkan tikus dan hama wereng. Jadi, ampuni kami karena
hanya mampu mempersembahkan sekarung beras ini, hanya itu yang kami
punya. Karena kami pun belum tahu bagaimana memberi makan anak istri
kami," ujarnya sambil menghela nafas panjang.

Mendengar jawaban itu, pangeran kecil tesentak dan baru tersadar.
Ternyata rakyatnya sangat menderita dan terancam kelaparan.Sementara
dirinya malah menyia-nyiakan dan membuang-buang makanan yang begitu
beharga.sang pangeran kecil kemudian lari meninggalkan tempat itu karena
merasa malu pada diri sendiri. Sejak peristiwa itu, tingkah laku
pengeran kecil berubah total. Ia menjadi anak yang sopan dan mau
menghargai orang lain. Setiap kali makan, ia selalu mengingatkan dirinya
sendiri, "jangan sisakan sebutir nasipun di piringmu...!"

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat
kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih (QS 14:7)

Mulai saat ini jika masih ada tersisa hidangan di piring kita, ingatlah
masih ada jutaan saudara kita yang masih kekurangan gizi dan makan.

Jangan sia-siakan yang tersisa, Abadikan dengan Sedekah,

Wassalam,

Friday, June 4, 2010

MUKZIZAT SEORANG ISTRI

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.

Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.
Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya.

Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. “Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban.”
Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. “Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku.” Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, “Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini.” Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, “Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku.”

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.
Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah.
Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan “bukan permata biasa”.

(Dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak)

Thursday, June 3, 2010

detikcom : Pemilik Segan Melangkahi si Emeng

title : Pemilik Segan Melangkahi si Emeng
summary : Semenjak di tubuh bagian kanan si Emeng ada motif lafad Allah, pemiliknya merasa segan untuk melangkahi kucing itu. Semua penghuni rumahnya pun bersikap sama (read more)

detikcom : Aneh! Kucing Liu Bisa Ngomong Enggak

title : Aneh! Kucing Liu Bisa Ngomong Enggak
summary : Kalau biasanya kucing bersuara (read more)
Cool Blue Outer Glow Pointer