Gaza Tidak Membutuhkanmu!
*Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.*
Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman "Israel" berseliweran.
Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.
Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalan an ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.
* *
Activism
Ada begitu banyak "activism, heroism…" Bahkan ada seorang peserta kafilah yang mengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of Islam” alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala.
Yang wartawan sering merasa hebat dan "powerful" karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.
Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.
* *
Mengerem
Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s anger and displeasure?
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.
Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.
Gaza Tak Butuh Aku
Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.
Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba- hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.
Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya
Aqsha… Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!
Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.
* *
Cara Allah Mengingatkan
Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku.
Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku.
Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat…menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung- jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu
mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?
Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke toilet.
Masih ndableg.
Kucoba lagi menyiram…
Masih ndableg
Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri…
Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush. Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet…
Blus!
Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana…
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.
Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.
Allahumaj’alni minat tawwabiin…
Allahumaj’alni minal mutatahirin…
Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…
* *
29 Mei 2010, 22:20
Santi Soekanto
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei 2010.
Showing posts with label Palestina. Show all posts
Showing posts with label Palestina. Show all posts
Tuesday, June 8, 2010
Sunday, June 6, 2010
Menelusuri Akar Konflik Palestina-Israel
Sekali lagi Israel menunjukan pengohannya. Dan lagi-lagi dunia diam dan hanya mengutuk. Tak terkecuali Dunia Islam. Penyerangan kapal bantuan oleh Israel benar-benar telah membuka mata kita bahwa Israel sudah sangat jauh mencengkram dunia. Mungkin ini bukan yg terakhir kali.
Ke depan, sangat mungkin Israel akan menunjukan kekuatan dan kepongahan pada dunia dengan menyerang tidak hanya sarana lain tapi juga negara yg dianggapnya jadi penghalang. Meski ini sudah dilakukannya lewat tangan sekutunya atau lebih lebih tepatnya budaknya Amerika.
Israel benar-benar tidak ingin Palestina hidup. Meski sudah melakukan bombardir, penggusuran, pembunuhan, penculikan, da aksi biadab lainnya, israel masih belum puas. Palestina benar-benar ingin dihapuskan dari peta dunia melalui pembersihan pendudukanya baik langsung maupun tidak langsung.
PBB, Liga Arab, dan badan-badan dunia lainnya seolah tidak berdaya menghentikan kebiadaban Israel. Bahkan mengecam pun terkesan ragu-ragu dan takut. Padahal jika dilihat dari sisi kelahiran, israel adalah negara muda yang baru lahir tahun 1948. Untuk negara muda yang belum genap 100 tahun, belumlah senekad dan sebiadab saat ini. Disinilah masalahnya.
Israel bukanlah negara muda. Cikal bakal kelahirannya sudah dirancang sejak tahun 1897 di Basel Swiss dalam Kongres Zionis Pertama. Kongres ini sebagai tindak lanjut dari doktrin-doktrin politik Theodore Herzl yang dituangkan dalam bukunya Der Judenstaat.
Prestasi dari kongres ini adalah sebuah kredo formal yang merupakan azas Nasionalisme Zionis atau Negara Israel itu sendiri yang berbunyi, ”Bahwa tujuan utama dari zioneisme adalah untuk menciptakan rumah bagi bangsa yahudi di Palestina yang terjamin dengan perundang-undangan.”
Untuk menjalankan tujuan ini tidaklah mudah. Mengingat negara tujuan zionis adalah negara sah, maka harus ada usaha-usaha yang signifikan untuk mewujudkannya.
Langkah pertama yang dilakukan oleh Herzl adalah mendirikan organisasi zionis yaitu The Jewish Colonial Trust (1898), The Colonisation Commision (1898), The Jewish National Fund (1901), dan The Palestine Land Development Company (1908).
Langkah selanjutnya membujuk Sultan Abdul Hamid agar mengizinkan kedatangan imigran Yahudi ke Palestina. Usaha ini gagal. Namun dengan makar, Sultan Abdul Hamid bisa ditaklukkan. Melalui tangan Mustafa Kemal Attaturk, Zionis berhasil menjinakkan sultan sekaligus menghapus Sistem Pemerintahan Khilafah.
Selain itu, secara terselubung, organisasi rahasia Yahudi yang disebut Freemason berhasil menciptakan semacam AD/ART untuk gerakan zionis sebagai panduan kerja. Panduan ini biasa disebut Protokol Zion. Dalam protokol inilah semua langkah-langkah kerja dirumuskan. Mulai dari menguasai pemimpin sebuah negara, menciptakan makar, adu domba, sampai ke penguasaan media massa.
Protokol Zion amat besar pengaruhnya terhadap kemajuan gerakan zionisme. Inggris sebagai negara adidaya saat itu berhasil dipengaruhi. Berkat usaha keras Dr. Chaim Weizman seorang pemimpin gerakan zionis yang juga dosen Ilmu Kimia Universitas Manchester, lahirlah Deklarasi Balfour. Pencipta acetone ini, yang kelak jadi presiden pertama israel, berhasil melakukan kontak dengan pejabat tinggi inggris dan mengajak meraka mendukung zionisme.
Deklarasi Balfour ini sebagai tonggak awal penguasaan zionis terhadap palestina. Pada tanggal 11 Desember 1917 Jenderal Allenby berhasil memasuki Kota Yuresalem dan di dalamnya masuk pula sukarelawan yahudi. Segera setelah itu, sebagai simbol kembalinya Spirit Judaisme di palestina, didirikan Hebrew University pada tanggal 24 Juli 1918 di Mount Scopus. Tempat dimana titus menaklukan Jerusalem pada tahun 69 M.
Zionis benar-benar memanfaatkan Deklarasi Balfour. Setelah Kongres Zionis Internasional pimpinan Weizmann, imigrasi yahudi ke palestina semakin digalakan. Langkah ini sebagai upaya memperkuat posisi Yishuv (komunitas yahudi di palestina). Setahun setelah kongres tersebut, jumlah yahudi di tanah palestina sudah mencapai 83.794 orang.
Meningkat pesat pada tahun 1931 yang mencapai 174.616 orang. Dan menjelang pembagian palestina oleh PBB tahun 1947, jumlah yahudi sudah mencapai 608.255 orang. Jumlah yang cukup banyak jika dibandingkan dengan penduduk asli palestina yang berjumlah 1.237.332 orang.
Jumlah masyarakat yahudi yang kian hari kian bertambah membuat mereka semakin berani. Dengan menggunakan taktik kekerasan dan teror, pada tahun 1939 mereka mengkonsolidasikan pengawasan dan penguasaan seluruh wilayah palestina dengan kekuatan diplomasi dan militer.
Praktik kekerasan dan terror ini, selain berlandaskan Talmud, juga menerapkan Teori Zionisme Revisionis Vladimir Jabotinsky (1880-1940). Teori ini dimuat dalam bukunya The Iron Wall yang juga memuat essai dasar bagi seluruh gerakan Zionis. Dalam buku tersebut, Jabotinsky secara jelas memuat kembali ide-ide zionisme yang pernah diletakan oleh Herzl dan tokoh zionis lainnya menski secara samar. Buku ini diterbitkan pada 4 November 1923.
Jabotinsky memandang zionisme sebagai sebuah imperialisme dari sisi yang realistis. Mengingat negara tujuan mereka adalah negara sah secara hukum. Maka merebutnya tidak bisa dengan kerjasama atau rekosialiasi melainkan dengan kekuatan dan teror. Ia menulis, “Tidak akan ada pembahasan tentang rekosialiasi sukarela anatar kita dengan orang-orang arab. Tidak untuk sekarang dan tidak untuk masa akan datang.
Semua orang yang berakal sehat, kecuali mereka yang buta sejak lahir, sejak lama telah memahami kemustahilan untuk bisa mencapai suatu kesepakatan sukareka dengan Bangsa Arab Palestina bagi pengubahan palestina dari sebuah negeri arab menjadi sebuah negeri dengan mayoritas Yahudi. Masing-masing dari kalian memiliki pemahaman umum tentang sejarah kolonisasi. Coba temukan satu contoh dimana kolonisasi sebuah negeri terjadi dengan persetujuan penduduk asli.”
Kekerasan dan teror yang diciptakan zionis terbukti ampuh. Ketika Deklarasi Balfour diresmikan, zionis baru menguasai 2,5 tanah palestina. Tahun 1947, zionis baru menguasai 6,5 persen. Namun pada tahun 1982 telah melonjak menjadi 93 persen. Itulah sebabnya Roger Geraudy menyebut bahwa tidak benar Negara Israel dibentuk oleh PBB. Negera tersebut dibentuk melalui serangkaian kekerasan yang dilakukan kelompok teroris Haganah, Irgun, dan Stern.
Aksi teror juga tidak segan-segan dilakukan kepada Warga Yahudi. Teror tersebut dilakukan untuk memaksa Warga Yahudi untuk bermigrasi ke palestina. Di Irak, untuk memaksa warga yahudi irak bermigrasi, israel membom Sinagog Masauda Shem-Tov pada tahun 1951. Akibatnya, 3 orang tewas dan 24 luka-luka. Cara ini terbukti berhasil memaksa yahudi irak bermigrasi ke palestina. Aksi-aksi semacam ini juga terjadi di belahan dunia lainnya.
Teror-teror yang diciptakan zionis terhadap warga palestina untuk mengusir mereka keluar memaksa Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 181. Resolusi ini ditetapkan pada 29 November 1947 yang berisi pemisahan Wilayah Palestina yang dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama wilayah israel yang mencakup 57 persen dari total wilayah palestina. Bagian kedua wilayah Negara Arab Palestina yang mencakup 42 persen. Dan Bagian ketiga adalah zona internasional yang mencakup Jerussalem.
Resolusi ini memanfaatkan Amerika untuk menekan sejumlah negara anggota PBB diantaranya Perancis, Ethiopia, Haiti, Leberia, Luksemburg, Paraguaty, dan Filipina. Uni Soviet juga mendukung. Kalangan zionis memanfaatkan betul resolusi ini. Mereka menganggap pemisahan Palestina dan israel sebagai upaya legitimasi berdirinya negara Israel dan sifatnya mengikat. Puncaknya adalah berdirinya Negara Israel pada 14 mei 1948.
PBB tidak berdaya ketika Negara Israel dengan resmi berdiri. Padahal resolusi Majelis Umum PBB berbeda dengan Resolusi Dewan Keamaan. Resolusi Majelis umum sifatnya mengikat ke dalam dan bersifat saran. Namun sedikitpun PBB tidak melakukan tindakan dalam mencegah berdirinya negara israel dalam negara yang sah secara hukum internasional. Kalau pun ada, maka PBB akan terhalang oleh Hak Veto Amerika Serikat.
Teror dan kekerasan dalam bentuk agresi meliter israel ke wilayah palestina tidak akan pernah berhenti sampai israel benar-benar mewujudkan mimpi mereka. Menguasai seluruh palestina sesuai dengan janji Tuhan dalam Taurat. Bahwa tanah Palestina adalah “Tanah yang Dijanjikan” untuk mereka.
Klaim teologis ini berdasarkan Kitab Kejadian 15:18 yang berbunyi, “Pada hari ini Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim melalui firman, ‘Untuk Tuhanmu Aku berikan tanah ini, dari sungai Mesir hingga sungai besar Eufrat’.” Dalam Kitab Yosua 21:43 dapat ditemukan hal yang senada, “Jadi seluruh negeri itu diberikan Tuhan kepada orang Israel, yakni seluruh negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka.Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana.”
Dasar teoligis inilah yang akan diwujudkan zionis menjadi sebuah Israel Raya. Oleh Karena itu, siapapun yang ada dalam “Tanah yang Dijanjikan” ini harus dienyahkan. Apapun resikonya dan bagaimanapun caranya. Jadi, selama Israel Raya belum terbentuk, jangan pernah berharap Zionis menghentikan untuk selama-lamanya teror dan kekerasan dalam bentuk perdamaian dengan palestina. Israel akan terus melakukan upaya agresi sampai palestina benar-benar dihapus dari peta dunia.
Menurut Mahir Ahmad Agha dalam bukunya Yahudi, Catatan Hitam Sejarah, Yahudi yang merampas tanah Palestina sekarang adalah Yahudi Khazar. Yahudi ini tidak mempunyai pertalian apapun dengan Bani Israel. Mereka terdiri dari berbagai bangsa yang memeluk Agama Yahudi selama bertahun-tahun pengasingan seperti Yahudi Yaman, Yahudi Felasha, dan Yahudi Khazar. Pendapat ini diperkuat Arthur Koestler. Referansi terkuat yang ia pakai adalah laporan Unesco yang menolak dengan tegas kemurnian Ras Yahudi.
Orang-orang Yahudi Kuno yang disebut Dalam Al-Quran hampir dapat dikatakan tidak ada lagi kecuali beberapa gelintir. Kalaupun ada, mereka adalah Golongan Farisi dan Saduki. Sementara Golongan Esenes – golongan yang memegang teguh Taurat - bisa dipastikan sudah musnah. Karena golongan ini melakukan selibat – tidak menikah – sebagaimana Nabi Musa a.s. Besar kemungkinan Farisi dan Sadukilah yang bertanggung jawab menyebarkan Agama Yahudi ke selain Bani Israel. Merekalah yang menanamkan Yudaisme radikal kepada kaum di luar Bani Israel.
Perdamaian Semu
Upaya perdamaian dari beberapa negara dan badan dunia hanya mampu menghentikan sejenak agresi dan tindak kekerasan israel terhadap palestina. Sudah berkali-kali dilakukan perjanjian baik Oslo, Camp David maupun perjanjian damai lainnya. Berkali-kali pula israel mengingkarinya yang kemudian dilanjutkan dengan agresi meliter. Dan lagi-lagi dunia diam seribu bahasa.
Lumpuhnya negara dan badan-badan dunia ini tak lepas dari peran zionis dalam melaksanakan Protokol Zion. Protokol ini berperan penting dalam mengarahkan dunia untuk mendukung secara langsung maupun tidak langsung semua tindakan teror yahudi di palestina. Hampir seluruhnya isi protokol ini berbahaya. Salah satunya adalah butir tentang bagaimana yahudi mengendalikan sebuah negara. Pada Protokol X butir sebelas disebutkan, “Pada masa mendatang kita akan menentukan tanggung jawab presiden.”
Butir ini dengan tegas memberitahu kita bagaimana yahudi mengendalikan sebuah negara. Pada butir 13 dalam protokol yang sama disebutkan, ”… Kemudian mereka akan menjadi agen terpercaya menyelesaikan rencana kita tanpa terbongkar dan dari ambisi kekuasaan, misalnya, kepemilikan hak istimewa, keuntungan, dan kehormatan terkait dengan kantor presiden.”
Selain menguasai sebuah negara secara terselubung, zionis diperintahkan melakukan huru-hara dalam sebuah negara. Huru-hara ini dimaksudkan agar mereka sibuk dengan diri mereka sendiri dan melupakan apapun yang terjadi di luar. Dengan begitu tidak ada waktu untuk memperhatikan semua tindakan yang dilakukan zionis. Hal ini dengan tegas dituangkan dalam Protokol X butir 19 yang berbunyi, “Alangkah pentingnya mempersulit rakyat dengan pemerintah di semua negara, sehingga umat manusia benar-benar letih dengan pertikaian, kebencian, perjuangan, dengki, dan bahkan dengan menggunakan siksaan, dengan kelaparan, dengan suntikan penyakit, dengan keinginan.”
Agar tindakan-tindakan teror yang mereka lakukan tidak menjadi komsumsi public secara terang-terangan, Protokol mengaturnya. Pada Protokol XII Butir 4 disebutkan, “Tidak ada satupun pengumuman akan mencapai public tanpa control kita. Bahkan sekarang ini, semua artikel berita yang diterima oleh sebagian kecil agen, difokuskan dari seluruh bagian dunia. Agen-agen ini akan kita miliki sepenuhnya dan hanya mempublikasikan apa-apa yang telah kita tentukan.”
Untuk melindungi zionis sepenuhnya dari tekanan dunia, Israel menggunakan Amerika sebagai tameng. Sudah berkali-kali Amerika terbukti sebagai pelindung setia Israel. Beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB diveto Amerika. Keberhasilan menggunakan Amerika sebagai budak Zionis tidak lepas dari peran lobi Yahudi di Amerika.
Martin Best, dan Irk Robb, dalam buku “Yahudi Amerika dan Pandangan Baru Kepada Struktur Sosial Amerika” memaparkan data-data infiltrasi Yahudi di dalam berbagai struktur AS, menulis sebagai berikut, “26 persen wartawan, analis, pejabat lembaga-lembaga politik sosial, termasuk di dalam pemerintahan AS dipegang oleh Yahudi. 59 persen dari para penulis dan para ahli hukum terbaik di New York adalah orang Yahudi.13 persen dari mereka, di bawah usia 40 tahun, memegang jabatan-jabatan penting di AS. 40 persen dari mereka juga hadir di dalam kongres AS. 7 dari 11 orang anggota Dewan Keamanan Nasional AS adalah Yahudi.
Fakta di atas menunjukan begitu kuatnya lobi israel di Amerika. Tak heran jika Amerika mati-matian membela pemerintah zionis israel. Kalau boleh dikatakan, Amerika adalah negara bagian israel yang terselubung. Oleh karena itu, mengharap perdamaian di tanah palestina sama halnya dengan mengharap oase di padang gurun. Amerika tidak akan pernah mau membela hak-hak palestina. Yang ada Amerika mendukung secara membabi buta.
Sekali lagi, konflik di tanah palestina tidak akan pernah reda sampai semua mimpi Zionis Israel terwujud. Negara dan badan-badan dunia lepas sepenuhnya dari pengaruh lobi israel. Dan ini tampaknya membutuhkan waktu dan pengorbanan yang cukup.
Dan satu hal, konflik yang berlatar historis teologis ini hanya akan berakhir dengan perlawanan yang berlandas historis dan teologis pula. Tidak akan pernah ada perdamaian abadi di palestina jika hanya mengharap dari diplomasi dan rekonsiliasi dari negara maupun badan dunia. Mustahil.
Supriyadi S. Si, Warga Lampung yang bekerja di NAD, Email: azizahazmin@gmail.com
Ke depan, sangat mungkin Israel akan menunjukan kekuatan dan kepongahan pada dunia dengan menyerang tidak hanya sarana lain tapi juga negara yg dianggapnya jadi penghalang. Meski ini sudah dilakukannya lewat tangan sekutunya atau lebih lebih tepatnya budaknya Amerika.
Israel benar-benar tidak ingin Palestina hidup. Meski sudah melakukan bombardir, penggusuran, pembunuhan, penculikan, da aksi biadab lainnya, israel masih belum puas. Palestina benar-benar ingin dihapuskan dari peta dunia melalui pembersihan pendudukanya baik langsung maupun tidak langsung.
PBB, Liga Arab, dan badan-badan dunia lainnya seolah tidak berdaya menghentikan kebiadaban Israel. Bahkan mengecam pun terkesan ragu-ragu dan takut. Padahal jika dilihat dari sisi kelahiran, israel adalah negara muda yang baru lahir tahun 1948. Untuk negara muda yang belum genap 100 tahun, belumlah senekad dan sebiadab saat ini. Disinilah masalahnya.
Israel bukanlah negara muda. Cikal bakal kelahirannya sudah dirancang sejak tahun 1897 di Basel Swiss dalam Kongres Zionis Pertama. Kongres ini sebagai tindak lanjut dari doktrin-doktrin politik Theodore Herzl yang dituangkan dalam bukunya Der Judenstaat.
Prestasi dari kongres ini adalah sebuah kredo formal yang merupakan azas Nasionalisme Zionis atau Negara Israel itu sendiri yang berbunyi, ”Bahwa tujuan utama dari zioneisme adalah untuk menciptakan rumah bagi bangsa yahudi di Palestina yang terjamin dengan perundang-undangan.”
Untuk menjalankan tujuan ini tidaklah mudah. Mengingat negara tujuan zionis adalah negara sah, maka harus ada usaha-usaha yang signifikan untuk mewujudkannya.
Langkah pertama yang dilakukan oleh Herzl adalah mendirikan organisasi zionis yaitu The Jewish Colonial Trust (1898), The Colonisation Commision (1898), The Jewish National Fund (1901), dan The Palestine Land Development Company (1908).
Langkah selanjutnya membujuk Sultan Abdul Hamid agar mengizinkan kedatangan imigran Yahudi ke Palestina. Usaha ini gagal. Namun dengan makar, Sultan Abdul Hamid bisa ditaklukkan. Melalui tangan Mustafa Kemal Attaturk, Zionis berhasil menjinakkan sultan sekaligus menghapus Sistem Pemerintahan Khilafah.
Selain itu, secara terselubung, organisasi rahasia Yahudi yang disebut Freemason berhasil menciptakan semacam AD/ART untuk gerakan zionis sebagai panduan kerja. Panduan ini biasa disebut Protokol Zion. Dalam protokol inilah semua langkah-langkah kerja dirumuskan. Mulai dari menguasai pemimpin sebuah negara, menciptakan makar, adu domba, sampai ke penguasaan media massa.
Protokol Zion amat besar pengaruhnya terhadap kemajuan gerakan zionisme. Inggris sebagai negara adidaya saat itu berhasil dipengaruhi. Berkat usaha keras Dr. Chaim Weizman seorang pemimpin gerakan zionis yang juga dosen Ilmu Kimia Universitas Manchester, lahirlah Deklarasi Balfour. Pencipta acetone ini, yang kelak jadi presiden pertama israel, berhasil melakukan kontak dengan pejabat tinggi inggris dan mengajak meraka mendukung zionisme.
Deklarasi Balfour ini sebagai tonggak awal penguasaan zionis terhadap palestina. Pada tanggal 11 Desember 1917 Jenderal Allenby berhasil memasuki Kota Yuresalem dan di dalamnya masuk pula sukarelawan yahudi. Segera setelah itu, sebagai simbol kembalinya Spirit Judaisme di palestina, didirikan Hebrew University pada tanggal 24 Juli 1918 di Mount Scopus. Tempat dimana titus menaklukan Jerusalem pada tahun 69 M.
Zionis benar-benar memanfaatkan Deklarasi Balfour. Setelah Kongres Zionis Internasional pimpinan Weizmann, imigrasi yahudi ke palestina semakin digalakan. Langkah ini sebagai upaya memperkuat posisi Yishuv (komunitas yahudi di palestina). Setahun setelah kongres tersebut, jumlah yahudi di tanah palestina sudah mencapai 83.794 orang.
Meningkat pesat pada tahun 1931 yang mencapai 174.616 orang. Dan menjelang pembagian palestina oleh PBB tahun 1947, jumlah yahudi sudah mencapai 608.255 orang. Jumlah yang cukup banyak jika dibandingkan dengan penduduk asli palestina yang berjumlah 1.237.332 orang.
Jumlah masyarakat yahudi yang kian hari kian bertambah membuat mereka semakin berani. Dengan menggunakan taktik kekerasan dan teror, pada tahun 1939 mereka mengkonsolidasikan pengawasan dan penguasaan seluruh wilayah palestina dengan kekuatan diplomasi dan militer.
Praktik kekerasan dan terror ini, selain berlandaskan Talmud, juga menerapkan Teori Zionisme Revisionis Vladimir Jabotinsky (1880-1940). Teori ini dimuat dalam bukunya The Iron Wall yang juga memuat essai dasar bagi seluruh gerakan Zionis. Dalam buku tersebut, Jabotinsky secara jelas memuat kembali ide-ide zionisme yang pernah diletakan oleh Herzl dan tokoh zionis lainnya menski secara samar. Buku ini diterbitkan pada 4 November 1923.
Jabotinsky memandang zionisme sebagai sebuah imperialisme dari sisi yang realistis. Mengingat negara tujuan mereka adalah negara sah secara hukum. Maka merebutnya tidak bisa dengan kerjasama atau rekosialiasi melainkan dengan kekuatan dan teror. Ia menulis, “Tidak akan ada pembahasan tentang rekosialiasi sukarela anatar kita dengan orang-orang arab. Tidak untuk sekarang dan tidak untuk masa akan datang.
Semua orang yang berakal sehat, kecuali mereka yang buta sejak lahir, sejak lama telah memahami kemustahilan untuk bisa mencapai suatu kesepakatan sukareka dengan Bangsa Arab Palestina bagi pengubahan palestina dari sebuah negeri arab menjadi sebuah negeri dengan mayoritas Yahudi. Masing-masing dari kalian memiliki pemahaman umum tentang sejarah kolonisasi. Coba temukan satu contoh dimana kolonisasi sebuah negeri terjadi dengan persetujuan penduduk asli.”
Kekerasan dan teror yang diciptakan zionis terbukti ampuh. Ketika Deklarasi Balfour diresmikan, zionis baru menguasai 2,5 tanah palestina. Tahun 1947, zionis baru menguasai 6,5 persen. Namun pada tahun 1982 telah melonjak menjadi 93 persen. Itulah sebabnya Roger Geraudy menyebut bahwa tidak benar Negara Israel dibentuk oleh PBB. Negera tersebut dibentuk melalui serangkaian kekerasan yang dilakukan kelompok teroris Haganah, Irgun, dan Stern.
Aksi teror juga tidak segan-segan dilakukan kepada Warga Yahudi. Teror tersebut dilakukan untuk memaksa Warga Yahudi untuk bermigrasi ke palestina. Di Irak, untuk memaksa warga yahudi irak bermigrasi, israel membom Sinagog Masauda Shem-Tov pada tahun 1951. Akibatnya, 3 orang tewas dan 24 luka-luka. Cara ini terbukti berhasil memaksa yahudi irak bermigrasi ke palestina. Aksi-aksi semacam ini juga terjadi di belahan dunia lainnya.
Teror-teror yang diciptakan zionis terhadap warga palestina untuk mengusir mereka keluar memaksa Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 181. Resolusi ini ditetapkan pada 29 November 1947 yang berisi pemisahan Wilayah Palestina yang dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama wilayah israel yang mencakup 57 persen dari total wilayah palestina. Bagian kedua wilayah Negara Arab Palestina yang mencakup 42 persen. Dan Bagian ketiga adalah zona internasional yang mencakup Jerussalem.
Resolusi ini memanfaatkan Amerika untuk menekan sejumlah negara anggota PBB diantaranya Perancis, Ethiopia, Haiti, Leberia, Luksemburg, Paraguaty, dan Filipina. Uni Soviet juga mendukung. Kalangan zionis memanfaatkan betul resolusi ini. Mereka menganggap pemisahan Palestina dan israel sebagai upaya legitimasi berdirinya negara Israel dan sifatnya mengikat. Puncaknya adalah berdirinya Negara Israel pada 14 mei 1948.
PBB tidak berdaya ketika Negara Israel dengan resmi berdiri. Padahal resolusi Majelis Umum PBB berbeda dengan Resolusi Dewan Keamaan. Resolusi Majelis umum sifatnya mengikat ke dalam dan bersifat saran. Namun sedikitpun PBB tidak melakukan tindakan dalam mencegah berdirinya negara israel dalam negara yang sah secara hukum internasional. Kalau pun ada, maka PBB akan terhalang oleh Hak Veto Amerika Serikat.
Teror dan kekerasan dalam bentuk agresi meliter israel ke wilayah palestina tidak akan pernah berhenti sampai israel benar-benar mewujudkan mimpi mereka. Menguasai seluruh palestina sesuai dengan janji Tuhan dalam Taurat. Bahwa tanah Palestina adalah “Tanah yang Dijanjikan” untuk mereka.
Klaim teologis ini berdasarkan Kitab Kejadian 15:18 yang berbunyi, “Pada hari ini Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim melalui firman, ‘Untuk Tuhanmu Aku berikan tanah ini, dari sungai Mesir hingga sungai besar Eufrat’.” Dalam Kitab Yosua 21:43 dapat ditemukan hal yang senada, “Jadi seluruh negeri itu diberikan Tuhan kepada orang Israel, yakni seluruh negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka.Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana.”
Dasar teoligis inilah yang akan diwujudkan zionis menjadi sebuah Israel Raya. Oleh Karena itu, siapapun yang ada dalam “Tanah yang Dijanjikan” ini harus dienyahkan. Apapun resikonya dan bagaimanapun caranya. Jadi, selama Israel Raya belum terbentuk, jangan pernah berharap Zionis menghentikan untuk selama-lamanya teror dan kekerasan dalam bentuk perdamaian dengan palestina. Israel akan terus melakukan upaya agresi sampai palestina benar-benar dihapus dari peta dunia.
Menurut Mahir Ahmad Agha dalam bukunya Yahudi, Catatan Hitam Sejarah, Yahudi yang merampas tanah Palestina sekarang adalah Yahudi Khazar. Yahudi ini tidak mempunyai pertalian apapun dengan Bani Israel. Mereka terdiri dari berbagai bangsa yang memeluk Agama Yahudi selama bertahun-tahun pengasingan seperti Yahudi Yaman, Yahudi Felasha, dan Yahudi Khazar. Pendapat ini diperkuat Arthur Koestler. Referansi terkuat yang ia pakai adalah laporan Unesco yang menolak dengan tegas kemurnian Ras Yahudi.
Orang-orang Yahudi Kuno yang disebut Dalam Al-Quran hampir dapat dikatakan tidak ada lagi kecuali beberapa gelintir. Kalaupun ada, mereka adalah Golongan Farisi dan Saduki. Sementara Golongan Esenes – golongan yang memegang teguh Taurat - bisa dipastikan sudah musnah. Karena golongan ini melakukan selibat – tidak menikah – sebagaimana Nabi Musa a.s. Besar kemungkinan Farisi dan Sadukilah yang bertanggung jawab menyebarkan Agama Yahudi ke selain Bani Israel. Merekalah yang menanamkan Yudaisme radikal kepada kaum di luar Bani Israel.
Perdamaian Semu
Upaya perdamaian dari beberapa negara dan badan dunia hanya mampu menghentikan sejenak agresi dan tindak kekerasan israel terhadap palestina. Sudah berkali-kali dilakukan perjanjian baik Oslo, Camp David maupun perjanjian damai lainnya. Berkali-kali pula israel mengingkarinya yang kemudian dilanjutkan dengan agresi meliter. Dan lagi-lagi dunia diam seribu bahasa.
Lumpuhnya negara dan badan-badan dunia ini tak lepas dari peran zionis dalam melaksanakan Protokol Zion. Protokol ini berperan penting dalam mengarahkan dunia untuk mendukung secara langsung maupun tidak langsung semua tindakan teror yahudi di palestina. Hampir seluruhnya isi protokol ini berbahaya. Salah satunya adalah butir tentang bagaimana yahudi mengendalikan sebuah negara. Pada Protokol X butir sebelas disebutkan, “Pada masa mendatang kita akan menentukan tanggung jawab presiden.”
Butir ini dengan tegas memberitahu kita bagaimana yahudi mengendalikan sebuah negara. Pada butir 13 dalam protokol yang sama disebutkan, ”… Kemudian mereka akan menjadi agen terpercaya menyelesaikan rencana kita tanpa terbongkar dan dari ambisi kekuasaan, misalnya, kepemilikan hak istimewa, keuntungan, dan kehormatan terkait dengan kantor presiden.”
Selain menguasai sebuah negara secara terselubung, zionis diperintahkan melakukan huru-hara dalam sebuah negara. Huru-hara ini dimaksudkan agar mereka sibuk dengan diri mereka sendiri dan melupakan apapun yang terjadi di luar. Dengan begitu tidak ada waktu untuk memperhatikan semua tindakan yang dilakukan zionis. Hal ini dengan tegas dituangkan dalam Protokol X butir 19 yang berbunyi, “Alangkah pentingnya mempersulit rakyat dengan pemerintah di semua negara, sehingga umat manusia benar-benar letih dengan pertikaian, kebencian, perjuangan, dengki, dan bahkan dengan menggunakan siksaan, dengan kelaparan, dengan suntikan penyakit, dengan keinginan.”
Agar tindakan-tindakan teror yang mereka lakukan tidak menjadi komsumsi public secara terang-terangan, Protokol mengaturnya. Pada Protokol XII Butir 4 disebutkan, “Tidak ada satupun pengumuman akan mencapai public tanpa control kita. Bahkan sekarang ini, semua artikel berita yang diterima oleh sebagian kecil agen, difokuskan dari seluruh bagian dunia. Agen-agen ini akan kita miliki sepenuhnya dan hanya mempublikasikan apa-apa yang telah kita tentukan.”
Untuk melindungi zionis sepenuhnya dari tekanan dunia, Israel menggunakan Amerika sebagai tameng. Sudah berkali-kali Amerika terbukti sebagai pelindung setia Israel. Beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB diveto Amerika. Keberhasilan menggunakan Amerika sebagai budak Zionis tidak lepas dari peran lobi Yahudi di Amerika.
Martin Best, dan Irk Robb, dalam buku “Yahudi Amerika dan Pandangan Baru Kepada Struktur Sosial Amerika” memaparkan data-data infiltrasi Yahudi di dalam berbagai struktur AS, menulis sebagai berikut, “26 persen wartawan, analis, pejabat lembaga-lembaga politik sosial, termasuk di dalam pemerintahan AS dipegang oleh Yahudi. 59 persen dari para penulis dan para ahli hukum terbaik di New York adalah orang Yahudi.13 persen dari mereka, di bawah usia 40 tahun, memegang jabatan-jabatan penting di AS. 40 persen dari mereka juga hadir di dalam kongres AS. 7 dari 11 orang anggota Dewan Keamanan Nasional AS adalah Yahudi.
Fakta di atas menunjukan begitu kuatnya lobi israel di Amerika. Tak heran jika Amerika mati-matian membela pemerintah zionis israel. Kalau boleh dikatakan, Amerika adalah negara bagian israel yang terselubung. Oleh karena itu, mengharap perdamaian di tanah palestina sama halnya dengan mengharap oase di padang gurun. Amerika tidak akan pernah mau membela hak-hak palestina. Yang ada Amerika mendukung secara membabi buta.
Sekali lagi, konflik di tanah palestina tidak akan pernah reda sampai semua mimpi Zionis Israel terwujud. Negara dan badan-badan dunia lepas sepenuhnya dari pengaruh lobi israel. Dan ini tampaknya membutuhkan waktu dan pengorbanan yang cukup.
Dan satu hal, konflik yang berlatar historis teologis ini hanya akan berakhir dengan perlawanan yang berlandas historis dan teologis pula. Tidak akan pernah ada perdamaian abadi di palestina jika hanya mengharap dari diplomasi dan rekonsiliasi dari negara maupun badan dunia. Mustahil.
Supriyadi S. Si, Warga Lampung yang bekerja di NAD, Email: azizahazmin@gmail.com
Subscribe to:
Posts (Atom)